ZONAPUBLIS- Kabar bahwa setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia 17 tahun bakal mendapatkan rekening dengan saldo Rp50 ribu belakangan ramai diperbincangkan.
Ada yang menyambutnya sebagai langkah positif untuk mengenalkan anak muda pada dunia perbankan. Ada pula yang bertanya-tanya, sebenarnya seberapa besar manfaat saldo Rp50 ribu tersebut bagi kehidupan mereka?
Sebab, ketika sebuah kebijakan menyasar anak muda dalam jumlah sangat besar, yang perlu dilihat bukan hanya nominal yang diterima setiap orang, tetapi juga seberapa besar dampak kebijakan tersebut terhadap masa depan mereka.
Tetapi bagi seorang anak berusia 17 tahun dari keluarga sederhana, kebutuhan yang dihadapi bisa jauh lebih besar.
Ada biaya pendidikan. Ada biaya transportasi. Ada kebutuhan sekolah. Ada biaya mengikuti berbagai seleksi. Bahkan bagi sebagian siswa, biaya pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi saja bisa menjadi pertimbangan.
Kalau ada anggaran untuk memberikan Rp50 ribu kepada setiap anak, mengapa tidak sekaligus memastikan anak-anak Indonesia memiliki akses pendidikan tinggi yang lebih mudah?
Misalnya, memberikan bebas biaya pendaftaran atau biaya mengikuti ujian masuk perguruan tinggi bagi siswa dari keluarga kurang mampu atau siswa berprestasi.
Saldo Rp50 ribu mungkin habis digunakan untuk kebutuhan tertentu. Tetapi kesempatan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dapat menjadi pintu menuju pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik.
Saya tidak sedang mengatakan program rekening tersebut tidak berguna. Justru literasi keuangan merupakan sesuatu yang sangat penting. Anak muda harus dikenalkan dengan rekening, tabungan, transaksi digital, keamanan finansial dan cara mengelola uang sejak dini.
Namun, jangan sampai kita berhenti pada “memberikan rekening”, sementara persoalan yang lebih mendasar belum selesai.
Anak muda hari ini membutuhkan lebih dari sekadar rekening. Mereka membutuhkan akses terhadap kesempatan.
Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk kuliah. Kesempatan untuk mengikuti seleksi tanpa takut biaya. Kesempatan untuk mendapatkan pelatihan. Kesempatan untuk bekerja. Dan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Kalau program saldo Rp50 ribu itu memang akan dijalankan, mungkin yang lebih menarik adalah jika rekening tersebut tidak hanya menjadi tempat masuknya saldo awal.
Jadikan ia sebagai rekening masa depan anak muda Indonesia. Misalnya, bisa terintegrasi dengan beasiswa, bantuan pendidikan, insentif prestasi, program pelatihan kerja, hingga berbagai program pemberdayaan pemuda.
Dengan begitu, negara bukan hanya berkata, “Ini rekeningmu dan ini saldo Rp50 ribu.”
Tetapi negara mengatakan: “Ini rekeningmu. Dan melalui rekening ini, kami ingin membantumu membangun masa depan.”
Karena bagi saya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan seberapa banyak orang yang menerima bantuan.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah: Berapa banyak kehidupan yang berhasil berubah karena kebijakan tersebut?
Rp50 ribu mungkin membuat seorang anak tersenyum hari ini. Tetapi biaya ujian perguruan tinggi yang gratis, beasiswa, pelatihan, dan akses pendidikan bisa membuat seorang anak memiliki alasan untuk tersenyum bertahun-tahun kemudian.
Jadi, kalau harus memilih prioritas, saya akan bertanya: Rp50 ribu di rekening atau satu kesempatan gratis untuk memperjuangkan masa depan melalui pendidikan?
Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Tetapi satu hal yang pasti, anak muda Indonesia jangan hanya diberi rekening. Mereka juga harus diberi kesempatan.
Sebab masa depan bangsa tidak dibangun dari saldo rekening semata. Masa depan dibangun dari kesempatan yang diberikan kepada generasinya.







