Berita

Harga HP Makin Meroket Naik di 2026, Ternyata AI Jadi Salah Satu Biang Keroknya

×

Harga HP Makin Meroket Naik di 2026, Ternyata AI Jadi Salah Satu Biang Keroknya

Sebarkan artikel ini
Harga HP Makin Meroket Naik di 2026
AI jadi salah satu penyebab harga HP melonjak naik

ZONAPUBLIS.ID – Harga HP belakangan ini mulai terasa semakin mahal. Ponsel yang sebelumnya berada di kelas harga tertentu kini bisa dibanderol lebih tinggi, sementara beberapa model baru juga hadir dengan spesifikasi yang tidak selalu meningkat sebanding dengan kenaikan harganya.

Kondisi tersebut bukan hanya terjadi pada satu merek. Industri smartphone secara global sedang menghadapi tekanan biaya yang cukup besar, terutama akibat melonjaknya harga komponen memori.

Di balik situasi ini ada persoalan yang lebih besar: persaingan kebutuhan memori antara smartphone dan ledakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Jadi, mengapa AI yang kita gunakan di internet bisa ikut membuat harga HP naik?

Bukan karena HP tiba-tiba dibuat lebih mahal

Kenaikan harga smartphone tidak sesederhana produsen menaikkan harga untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.

Salah satu masalah utama berada di rantai pasokan semikonduktor.

HP modern membutuhkan berbagai jenis chip, mulai dari prosesor, modem, pengelola daya, hingga komponen memori. Di antara komponen tersebut, DRAM dan NAND Flash kini menjadi perhatian besar.

DRAM digunakan sebagai memori kerja. Ketika pengguna membuka aplikasi, berpindah-pindah menu, menjalankan game, atau melakukan multitasking, data yang sedang digunakan perangkat ditangani oleh memori tersebut.

Sementara NAND Flash berfungsi sebagai penyimpanan internal untuk sistem operasi, aplikasi, foto, video, dan berbagai file pengguna.

Ketika harga kedua komponen tersebut naik, biaya untuk membuat sebuah smartphone otomatis ikut terdorong.

TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional naik 13–18 persen secara kuartalan pada kuartal III 2026. Untuk NAND Flash, kenaikannya diperkirakan sekitar 10–15 persen. Lembaga riset tersebut juga menyebut vendor smartphone berpotensi menaikkan harga ritel untuk mengimbangi tingginya biaya LPDRAM.

Lalu apa hubungannya dengan AI?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik.

Perkembangan AI membutuhkan pusat data dalam jumlah besar. Server-server tersebut menjalankan model AI yang membutuhkan kemampuan komputasi dan kapasitas memori sangat besar.

Salah satu jenis memori yang sangat penting untuk sistem AI adalah High Bandwidth Memory atau HBM.

HBM memang bukan RAM smartphone yang digunakan secara langsung di dalam ponsel. Namun, industri memori memiliki kapasitas produksi yang terbatas dan produsen harus menentukan bagaimana kapasitas tersebut dialokasikan.

Ketika permintaan HBM dan memori untuk server AI meningkat tajam, produsen semikonduktor mengalihkan sebagian kapasitas dan investasi ke produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Baca Juga  Mengenal Laptop AI: Apa Bedanya dengan Laptop Biasa?

Akibatnya, pasar perangkat konsumen seperti PC dan smartphone ikut merasakan tekanan pasokan. TrendForce menyebut pemasok terus memprioritaskan aplikasi terkait AI sehingga pasokan LPDRAM untuk smartphone tetap ketat.

Dengan kata lain, bukan berarti server AI mengambil RAM smartphone secara langsung. Masalahnya lebih kompleks: kapasitas produksi memori global sedang diperebutkan oleh berbagai kebutuhan teknologi, dan AI menjadi salah satu konsumen dengan daya beli paling kuat.

Harga RAM smartphone melonjak

Dampaknya sudah terlihat pada biaya komponen smartphone.

Menurut laporan yang mengutip data Counterpoint, harga DRAM untuk smartphone meningkat sekitar 56 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya, kemudian kembali meningkat sekitar 83 persen pada kuartal kedua.

Kondisi tersebut membuat produsen HP berada dalam posisi sulit.

Ada tiga pilihan utama.

Pertama, produsen menyerap kenaikan biaya sehingga keuntungan menjadi lebih kecil.

Kedua, harga HP dinaikkan agar margin tetap terjaga.

Ketiga, spesifikasi tertentu dikurangi untuk menekan biaya produksi.

Pilihan kedua mulai terlihat di pasar. OPPO, misalnya, telah mengumumkan kenaikan harga sejumlah produknya mulai Maret 2026 akibat meningkatnya biaya komponen memori.

Bahkan Qualcomm juga dilaporkan berencana menaikkan harga jajaran chipset Snapdragon mulai September 2026. Artinya, tekanan biaya smartphone tidak hanya datang dari memori.

Mengapa HP murah justru paling terancam?

Mungkin muncul pertanyaan: kalau biaya komponen naik, bukankah HP mahal juga terkena dampaknya?

Jawabannya tentu iya.

Namun, dampaknya bisa terasa jauh lebih berat pada HP murah.

Bayangkan sebuah ponsel dijual Rp1,5 juta. Produsen tentu memiliki ruang margin yang jauh lebih kecil dibandingkan smartphone yang dijual Rp10 juta atau Rp15 juta.

Jika biaya komponen naik cukup besar, produsen HP murah akan lebih sulit menyerap kenaikan tersebut.

Karena itu, produsen memiliki beberapa pilihan. Harga dinaikkan, kapasitas RAM atau penyimpanan dikurangi, spesifikasi lain disesuaikan, atau model dengan margin terlalu kecil tidak lagi diprioritaskan.

Omdia juga mencatat bahwa lonjakan harga DRAM dan NAND sedang memperlebar polarisasi pasar smartphone, termasuk mendorong pengurangan memori pada perangkat kelas bawah.

Inilah alasan mengapa era HP dengan harga sangat murah bisa semakin sulit dipertahankan.

Konsumen mungkin mendapatkan HP dengan harga lebih mahal, bukan selalu spesifikasi lebih tinggi

Ada satu perubahan yang perlu diperhatikan.

Selama bertahun-tahun, konsumen terbiasa mendapatkan spesifikasi yang semakin tinggi dengan harga relatif sama.

Baca Juga  Dari Penguasa Dunia Menjadi Kenangan: Cerita Kejatuhan BlackBerry yang Mengubah Sejarah Smartphone

Dulu RAM 4 GB dianggap besar. Kemudian 6 GB menjadi umum, disusul 8 GB, 12 GB, bahkan lebih tinggi.

Begitu pula penyimpanan. Kapasitas 64 GB perlahan ditinggalkan dan 128 GB menjadi semakin umum.

Namun, ketika biaya memori naik, produsen tidak lagi memiliki keleluasaan yang sama.

Kenaikan harga tidak selalu berarti seluruh uang tambahan tersebut digunakan untuk meningkatkan spesifikasi. Sebagian bisa saja hanya digunakan untuk mempertahankan biaya produksi dan margin yang sebelumnya sudah tertekan.

TrendForce bahkan memperkirakan kemampuan konsumen untuk menerima kenaikan harga mulai terbatas. Kondisi tersebut membuat produsen smartphone lebih berhati-hati dalam menentukan produksi dan pengadaan komponen.

Bukan cuma RAM, chipset juga ikut menjadi masalah

Kalau persoalannya hanya RAM, sebenarnya produsen masih memiliki sejumlah cara untuk beradaptasi.

Masalahnya, tekanan biaya datang dari beberapa arah sekaligus.

Selain memori, harga chipset juga menjadi perhatian.

Qualcomm, salah satu pemasok chipset terbesar untuk smartphone Android, dilaporkan akan menaikkan harga sejumlah system-on-chip (SoC) Snapdragon mulai September 2026.

Jika harga chipset dan memori sama-sama meningkat, beban biaya produksi semakin berat.

Produsen akhirnya harus menghitung ulang harga jual, spesifikasi, volume produksi, bahkan model mana yang masih layak dipasarkan.

Mengapa produsen tidak tinggal menambah produksi chip?

Sekilas solusinya terlihat sederhana: kalau chip kurang, bukankah pabrik tinggal memproduksi lebih banyak?

Sayangnya, industri semikonduktor tidak bekerja secepat itu.

Membangun fasilitas produksi semikonduktor membutuhkan investasi sangat besar dan waktu bertahun-tahun. Bahkan setelah gedung pabrik berdiri, pemasangan berbagai sistem produksi dan proses sertifikasi masih membutuhkan waktu.

Karena itu, ketika permintaan AI tumbuh sangat cepat, pasokan tidak bisa langsung mengejarnya.

Inilah yang membuat masalah memori berpotensi berlangsung lebih lama daripada sekadar kenaikan harga satu atau dua bulan.

TrendForce memperkirakan kebutuhan DRAM dari server AI masih dapat menjaga pasar berada dalam kondisi ketat hingga 2027. Sementara itu, kondisi NAND bisa berbeda karena tambahan kapasitas dan perubahan permintaan konsumen berpotensi memberikan tekanan penurunan harga pada periode tertentu.

Artinya, belum tentu semua komponen akan terus naik selamanya. Namun, tekanan pada DRAM diperkirakan belum cepat hilang.

Apakah harga HP akan terus naik?

Belum tentu setiap HP akan naik dengan persentase yang sama.

Produsen mempunyai strategi berbeda-beda. Ada yang memilih menaikkan harga, ada yang mengurangi produksi, ada pula yang mencoba mempertahankan harga dengan menyesuaikan spesifikasi.

Baca Juga  Pemko Padang dan Kemenhaj Mulai Persiapan Haji 2027, Pendaftar 2013 Diminta Segera Verifikasi Data

Namun, tekanan biaya memang nyata.

Bahkan produsen besar seperti Apple juga menghadapi masalah yang sama. Perusahaan tersebut telah menaikkan harga sejumlah produk dan krisis memori menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.

Di Indonesia, konsumen juga bisa merasakan dampaknya melalui harga perangkat baru, tergantung pada strategi masing-masing merek, nilai tukar, biaya distribusi, pajak, serta kebijakan harga untuk pasar Indonesia.

Jadi, tidak tepat jika seluruh kenaikan harga HP di Indonesia hanya disebabkan oleh satu faktor.

Apakah sekarang waktu yang tepat membeli HP?

Bagi konsumen yang memang membutuhkan HP baru, menunda pembelian hanya karena berharap harga segera turun belum tentu menjadi strategi terbaik.

Jika perangkat lama masih berfungsi dengan baik, tentu tidak ada keharusan untuk menggantinya hanya karena muncul model baru.

Namun, jika HP sudah bermasalah dan memang membutuhkan pengganti, konsumen sebaiknya lebih memperhatikan umur penggunaan daripada sekadar mengejar spesifikasi tertinggi.

HP dengan RAM dan penyimpanan besar memang menarik, tetapi dukungan pembaruan sistem operasi, kualitas chipset, baterai, kamera, layar, dan ketersediaan suku cadang juga penting.

Dalam kondisi harga komponen sedang tinggi, membeli perangkat yang mampu digunakan selama beberapa tahun bisa lebih masuk akal daripada terlalu sering berganti HP.

AI Mengubah Pasar Smartphone

Kenaikan harga HP pada 2026 pada akhirnya memperlihatkan sesuatu yang cukup menarik.

Perang teknologi AI ternyata tidak hanya terjadi di aplikasi atau chatbot yang digunakan sehari-hari.

Persaingan tersebut sudah menjalar sampai ke pabrik semikonduktor dan rantai pasokan perangkat elektronik.

Pusat data membutuhkan semakin banyak memori. Produsen chip mengejar permintaan dengan margin tinggi. Kapasitas produksi kemudian menjadi sumber daya yang diperebutkan.

Di sisi lain, smartphone tetap membutuhkan RAM dan penyimpanan dalam jumlah semakin besar untuk menjalankan aplikasi, kamera beresolusi tinggi, game, serta fitur AI di perangkat.

Dua kebutuhan besar tersebut bertemu pada industri yang sama.

Akibatnya, konsumen harus menghadapi konsekuensi yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan: demam AI bisa membuat harga perangkat yang kita gunakan setiap hari ikut menjadi lebih mahal.

Dan jika kapasitas produksi baru belum mampu mengejar pertumbuhan permintaan, era HP murah dengan spesifikasi tinggi mungkin memang akan semakin sulit ditemukan.

(rza/zp)