ZONAPUBLIS Di banyak kota Indonesia, termasuk wilayah suburban dan kota kecil, promo swalayan kini menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen. Diskon besar, bundling produk, hingga program beli satu gratis satu semakin sering ditemukan. Namun di balik ramainya promo, muncul fenomena baru: promosi yang seharusnya menghemat, justru membuat masyarakat semakin boros.
Menurut pengamatan di beberapa swalayan besar, banyak pengunjung datang dengan niat membeli kebutuhan pokok, tetapi akhirnya pulang dengan keranjang penuh barang yang sebenarnya tidak masuk daftar belanja awal. Hal ini dipicu oleh strategi pemasaran yang cerdas, seperti:
- Harga coret yang membuat konsumen merasa rugi jika tidak membeli.
- Promo terbatas waktu yang memicu efek FOMO (takut ketinggalan).
- Bundling 3 lebih murah yang membuat orang membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan.
- Display produk yang menggugah emosi, seperti snack dan minuman promo di area depan kasir.
Psikolog konsumen menyebut fenomena ini sebagai “belanja impulsif berbasis ilusi hemat”. Konsumen merasa sedang berhemat karena membeli barang promo, padahal total pengeluaran justru meningkat.
Seorang pengunjung swalayan mengungkapkan, “Niatnya cuma beli minyak sama telur, tapi karena promo aku ambil sabun, camilan, sama minuman. Totalnya malah lebih mahal dari biasanya.”
Meski begitu, promo tetap memberikan manfaat bagi sebagian orang yang mampu mengatur daftar belanja dengan disiplin. Kunci agar tidak boros adalah membeli hanya yang benar-benar dibutuhkan, membandingkan harga, dan menetapkan batas anggaran sebelum masuk swalayan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa promo bukan selalu berarti penghematan, dan kesadaran konsumen menjadi faktor utama untuk tetap bijak berbelanja.







