ZONAPUBLIS- Dampak bencana banjir dan longsor di Kecamatan Pauh, Kota Padang, terus bertambah. Camat Pauh, Titin Masfretin, melaporkan bahwa jumlah warga yang mengungsi kini telah melampaui 1.500 orang, tersebar di 12 titik pengungsian, belum termasuk mahasiswa yang juga turut mengungsi.
Hingga Sabtu siang, dua warga masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian, yakni satu perempuan dan satu laki-laki. Sementara itu, data kerusakan mencatat lebih dari 700 rumah terdampak, mulai dari yang hanyut, rusak berat, rusak sedang, hingga rusak ringan. Selain itu, lima rumah ibadah turut mengalami kerusakan akibat bencana.
Untuk penanganan di lapangan, alat berat telah dikerahkan ke kawasan Basi Buku untuk memindahkan material yang menghambat aliran sungai dan akses jalan. Di sepanjang jalur MHTANG, alat berat juga bekerja membersihkan badan jalan yang sebelumnya tertimbun material akibat terseretnya lokomotif.
Di beberapa lokasi yang sulit dijangkau kendaraan, bantuan terpaksa diantarkan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki. Salah satunya berada di kawasan Batu Busuk, Karakatau, yang memiliki dua titik pengungsian berisi sekitar 50–60 jiwa.
Camat Pauh juga mengimbau warga yang rumahnya belum aman untuk tetap tinggal di pengungsian. “Lansia, perempuan, dan anak-anak sebaiknya tetap berada di tempat pengungsian demi keselamatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Senin mendatang aktivitas belajar mengajar kembali berlangsung. Beberapa bangunan sekolah yang dipakai sebagai lokasi pengungsian perlu dikosongkan secara bertahap. “Rumah warga yang hanyut atau rusak berat tentu belum bisa ditempati, sehingga perlu penanganan lanjutan,” katanya.
Titin menyampaikan bahwa dukungan dari berbagai pihak terus mengalir. “Baik dari unsur ibadih, organisasi, lembaga, pemerintah, maupun swasta akan kami data. Alhamdulillah logistik masih terpenuhi, meski distribusinya harus dilakukan dengan sabar karena kondisi medan yang berat.” katanya.







