ZONAPUBLIS- Isu perlindungan anak di era digital menjadi perhatian dalam pertemuan yang digelar Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) di Aula Hall D Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Selasa (28/4/2026).
Ketua Harian P2TP2A Kota Padang, Ermiati, menegaskan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat penting karena keterbatasan sumber daya pemerintah.
“Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif. Kita butuh sinergi lintas sektor,” ujarnya.
Ia menyebut, program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) telah terbentuk di 104 kelurahan sejak 2018 dan diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga anak di lingkungan.
Sementara itu, perwakilan GNI, Cicik Sri Rejeki, mengingatkan ancaman di dunia digital semakin meningkat, termasuk Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) serta praktik grooming di media sosial.
Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga menunjukkan adanya transaksi mencurigakan yang diduga terkait eksploitasi anak secara online.
“Ini harus dicegah sejak dini melalui pengawasan penggunaan gawai pada anak,” katanya.
GNI menegaskan, fokus ke depan adalah membangun sistem perlindungan anak yang kuat di tingkat komunitas agar dapat berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan lebih peduli dan aktif melindungi anak-anak, terutama dari ancaman di ruang digital.







