ZONAPUBLIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan awal pekan ini.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,33% ke level Rp16.935per dolar AS, Senin (19/1/2026).
Capaian ini mencatatkan sejarah baru sebagai level penutupan terendah rupiah sepanjang masa.
Pelemahan ini mengindikasikan meningkatnya tekanan di pasar keuangan global yang menyebabkan nilai tukar domestik semakin tergerus terhadap greenback.
Kondisi di pasar spot langsung berdampak pada harga jual di perbankan dalam negeri.
Sejumlah bank besar di Indonesia terpantau mulai mematok kurs jual dolar AS di angka Rp17.000, khususnya untuk transaksi non-elektronik (TT Counterdan Bank Notes).
Berikut adalah rincian kurs di tiga bank besar nasional per Senin, 19 Januari 2026:
1. Bank Mandiri
Bank Mandiri mematok harga jual pada level psikologis Rp17.000 untuk kategori tertentu.
-
Special Rate: Beli Rp16.905 | Jual Rp16.935
-
TT Counter: Beli Rp16.700 | Jual Rp17.000
-
Bank Notes: Beli Rp16.700 | Jual Rp17.000
2. BNI
BNI menetapkan harga jual tertinggi di atas Rp17.060 untuk layanan fisik dan konter.
-
Special Rate: Beli Rp16.925 | Jual Rp16.985
-
TT Counter: Beli Rp16.760 | Jual Rp17.060
-
Bank Notes: Beli Rp16.760 | Jual Rp17.060
3. BCA
BCA terpantau mematok kurs jual yang bersaing namun tetap berada di atas Rp17.000 untuk transaksi non-e-rate.
-
E-Rate: Beli Rp16.945 | Jual Rp16.980
-
TT Counter: Beli Rp16.765 | Jual Rp17.065
-
Bank Notes: Beli Rp16.765 | Jual Rp17.065
Tekanan Pasar Keuangan
Pelemahan ini menjadi sinyal waspada bagi pelaku ekonomi. Para analis menilai bahwa posisi rupiah yang mendekati angka psikologis baru ini akan sangat bergantung pada langkah intervensi Bank Indonesia serta sentimen kebijakan moneter dari Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. (*)









