BeritaLifestyle

Sering Merasa Perjalanan Pergi Lebih Lama dari Pulang? Kenali Fenomena Return Trip Effect

×

Sering Merasa Perjalanan Pergi Lebih Lama dari Pulang? Kenali Fenomena Return Trip Effect

Sebarkan artikel ini
2025 12 28 22 45 06 images

ZONAPUBLIS – Pernahkah Anda merasa perjalanan menuju tempat baru terasa sangat lama, namun saat pulang melewati rute yang sama, waktu seolah berlalu begitu cepat? Fenomena ini bukan sekadar imajinasi Anda; dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Return Trip Effect.

​Faktor Familiaritas dan Fokus Otak

Secara logika, Return Trip Effect berkaitan dengan cara otak memproses informasi baru. Saat berangkat ke lokasi asing, otak bekerja ekstra keras untuk memperhatikan rambu jalan, patokan rute, hingga persimpangan agar tidak tersesat. Fokus yang intens ini membuat persepsi waktu terasa lebih lambat.

Baca Juga  Soal Banjir Banda Gadang, Camat Nanggalo: Surat Keluhan Warga Sudah Dikirim Sejak Mei 2025

​Sebaliknya, saat perjalanan pulang, otak sudah memiliki “rekaman” memori tentang rute tersebut. Faktor familiaritas ini membuat kita tidak lagi perlu waspada secara berlebihan, sehingga perjalanan terasa jauh lebih singkat.

​Pelanggaran Harapan (Violation of Expectation)

Peneliti Niels van de Ven mengungkapkan teori Violation of Expectation atau pelanggaran harapan. Saat berangkat, kita cenderung berekspektasi bahwa perjalanan akan memakan waktu tertentu. Namun, karena rasa penasaran atau ketidaktahuan rute, perjalanan terasa melampaui ekspektasi tersebut. Akibatnya, saat pulang, kita “menghargai” waktu dengan cara berbeda karena rute tersebut sudah dianggap biasa.

Baca Juga  Polsek Padang Selatan Pantau Antrean Solar di Sejumlah SPBU

​Tekanan Waktu dan Tujuan

Psikolog dari Montana State University, Richard A. Block, menambahkan sudut pandang lain. Menurutnya, saat berangkat, orang biasanya terikat pada target waktu agar tidak terlambat sampai di tujuan. Tekanan ini membuat kita lebih sering memeriksa jam dan bertanya-tanya, “Kapan sampai?”

​Saat pulang, tekanan tersebut hilang. Tujuan utama hanyalah kembali ke rumah tanpa tuntutan waktu yang ketat. Relaksasi mental inilah yang mengubah persepsi kita terhadap durasi perjalanan.

Faktanya, perjalanan berangkat memang melibatkan antisipasi rute dan kewaspadaan tinggi terhadap hal-hal asing. Sementara saat pulang, kita cenderung lebih rileks karena rute sudah terproses secara otomatis di otak. Itulah mengapa, meski jaraknya sama, perasaan kita terhadap waktu selalu berbeda.

Baca Juga  Enam Korban Banjir Bandang Sumbar yang Dimakamkan Berhasil Diidentifikasi, Keluarga Jemput Jenazah