BeritaPeristiwa

19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Mahyeldi Ingatkan Bahaya Karhutla dan Kabut Asap

×

19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Mahyeldi Ingatkan Bahaya Karhutla dan Kabut Asap

Sebarkan artikel ini
IMG 20260904 WA0001

ZONAPUBLIS– Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah mengajak pemerintah provinsi tetangga memperkuat koordinasi dan sinergi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu menyusul kondisi kabut asap yang turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumbar.

Mahyeldi mengatakan, penanganan karhutla secara bersama dan terpadu perlu terus diperkuat untuk mengantisipasi dampak yang lebih serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Terlebih, dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus.

“Kita berharap koordinasi dan sinergi antar seluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, kondisi kualitas udara saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara dipengaruhi kabut asap.

Baca Juga  Korban Tewas Gempa Kembar M 7,2 dan M 7,5 di Venezuela Melonjak Jadi 188 Orang

“Untuk masyarakat, kita imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan,” katanya.

Mahyeldi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya sumber asap baru yang dapat memperburuk kualitas udara.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan tidak melakukan pembakaran lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kualitas udara Sumatera Barat agar tetap sehat dan nyaman,” tegasnya.

19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumbar, Kuartini Deti Putri menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB, terdapat 19 titik hotspot di wilayah Sumbar.

Baca Juga  Berikut Prakiraan Cuaca Sumbar Senin, 5 Januari 2026

Hotspot tersebut tersebar di Kabupaten Dharmasraya sebanyak lima titik, Lima Puluh Kota satu titik, Pasaman tiga titik, Pesisir Selatan lima titik, dan Sijunjung lima titik.

“Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat 19 titik hotspot yang tersebar di lima kabupaten, yaitu Dharmasraya, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, dan Sijunjung,” jelas Deti.

Selain di Sumbar, sejumlah provinsi tetangga juga mencatat hotspot dalam jumlah cukup signifikan. Berdasarkan data SIPONGI periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 301 titik hotspot di Jambi, 229 titik di Riau, 13 titik di Bengkulu, 46 titik di Sumatera Utara, serta 2.422 titik di Sumatera Selatan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap dari karhutla di wilayah sekitar dapat terbawa angin dan kondisi atmosfer menuju daerah lain, termasuk Sumbar.

Baca Juga  Minat Investasi di Sumbar Melonjak, Jutaan Warga Terpapar Edukasi Pasar Modal Sepanjang 2025

Namun, pengaruh asap terhadap kualitas udara sangat bergantung pada dinamika cuaca, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer saat kejadian.

PM2,5 Masih Kategori Sedang

Sementara itu, hasil pemantauan kualitas udara melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar menunjukkan PM2,5 sebagai parameter dominan.

Konsentrasi rata-rata PM2,5 tercatat 19,88 µg/m³, sedangkan konsentrasi maksimum mencapai 21,71 µg/m³.

“Untuk indikatif ISPU PM2,5 berada pada rentang 55,9–58,4 atau masih dalam kategori sedang,” terang Deti.

Ia mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah serta meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi perubahan kondisi udara.

Masyarakat juga diharapkan turut berperan menjaga kualitas udara dengan menghindari aktivitas pembakaran terbuka, baik pembakaran sampah maupun lahan.