Berita

83 Siswa MTsN 1 Pariaman Diduga Keracunan MBG, Distribusi Makanan Dihentikan Sementara

×

83 Siswa MTsN 1 Pariaman Diduga Keracunan MBG, Distribusi Makanan Dihentikan Sementara

Sebarkan artikel ini
83 Siswa MTsN 1 Pariaman Diduga Keracunan MBG

ZONAPUBLIS.ID – Puluhan siswa MTsN 1 Kota Pariaman, Sumatera Barat, harus mendapatkan perawatan setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dinas Kesehatan Kota Pariaman mencatat sedikitnya 83 siswa mengalami gejala hingga Senin (14/9/2026). Para siswa tersebut mendapat penanganan di dua fasilitas kesehatan, yakni RSUD Muhammad Yamin dan RSUD dr Sadikin.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Rudy Repenaldi Rilis, mengatakan keluhan yang dialami para siswa antara lain muntah, sakit perut, pusing hingga sesak napas.

”Indikasinya muntah, sakit perut, pening, dan sesak napas,” kata Rudy, Senin sore.

Menurut Rudy, keluhan tersebut mulai dirasakan siswa tidak lama setelah mereka menyantap makanan MBG pada Senin.

Jarak munculnya gejala diperkirakan sekitar belasan menit hingga setengah jam setelah makanan dikonsumsi.

Menu yang dibagikan kepada siswa saat itu antara lain nasi dengan lauk ayam goreng krispi.

Para siswa yang mengalami keluhan kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan observasi. Sebagian di antaranya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik dan dijemput guru maupun orangtua.

Sampel Makanan dan Muntahan Diperiksa

Dinkes Kota Pariaman belum memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa.

Untuk mencari penyebabnya, petugas mengambil sejumlah sampel, termasuk makanan yang dibagikan dalam program MBG serta muntahan dari korban.

Baca Juga  Diduga Keracunan Usai Santap MBG, 280 Siswa dan Guru di Palupuh Alami Keluhan Kesehatan

Sampel tersebut selanjutnya diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan para siswa mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan.

Rudy mengatakan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan makanan tersebut berada di Desa Pauh Barat, Kecamatan Pariaman Tengah.

SPPG itu diketahui melayani enam sekolah dengan jumlah distribusi mencapai sedikitnya 2.900 porsi makanan.

Namun, laporan siswa mengalami gejala keracunan sejauh ini hanya berasal dari MTsN 1 Kota Pariaman.

Dari sekitar 600 penerima manfaat MBG di sekolah tersebut, puluhan siswa dilaporkan mengalami keluhan.

”Sejauh ini, hanya satu sekolah ini yang terindikasi. Lima sekolah lain tidak ada masalah,” ujar Rudy.

Mengenai kemungkinan penyebabnya, Rudy mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan. Ia tidak menutup kemungkinan adanya berbagai faktor yang perlu ditelusuri, termasuk proses pengolahan maupun distribusi makanan.

”Apakah persoalan, misal, kadang ada masakan yang dimasak malam, itu yang kami kurang tahu. Mungkin (juga terlambat dikirim). Penyebab pastinya itu yang sedang diselidiki.”

Distribusi MBG Dihentikan Sementara

Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan pemerintah daerah langsung melakukan penelusuran setelah muncul laporan siswa mengalami gejala keracunan.

Sampel makanan yang dikumpulkan kemudian diperiksa di laboratorium Kota Pariaman guna mencari penyebab kejadian tersebut.

Baca Juga  Nasi Sala Jadi Pilihan Sarapan Pagi, Sensasi Prasmanan Atau Ambil Sendiri

Sebagai langkah sementara, distribusi makanan dari SPPG yang terkait dihentikan.

Yota mengatakan penghentian tersebut dilakukan mengikuti mekanisme penanganan ketika terjadi dugaan kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG.

”Korwil (koordinator wilayah MBG) menyatakan, memang setiap ada kasus, BGN (Badan Gizi Nasional) menginstruksikan penutupan sementara,” ujarnya.

Langkah tersebut dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi terhadap proses penyediaan makanan.

Muncul Dugaan Kondisi Ayam, Perlu Pemeriksaan Menyeluruh

Ketua Umum Organisasi Masyarakat Aksi Solidaritas Piaman Laweh (Aspila), Azwar Anas, meminta kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG.

Menurut dia, pemeriksaan terhadap makanan sebelum dibagikan kepada siswa perlu menjadi perhatian.

Anas mengaku mendapatkan informasi dari sejumlah siswa yang mengalami keluhan mengenai kondisi lauk yang mereka konsumsi.

”Kami tanya ke murid (yang keracunan), ternyata ayamnya sudah busuk,” kata Anas.

Pernyataan tersebut masih merupakan keterangan yang disampaikan berdasarkan informasi dari siswa dan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan resmi.

Anas juga mendorong adanya pemeriksaan secara independen terhadap dapur MBG yang mendistribusikan makanan tersebut.

Menurutnya, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa, tetapi juga perlu mencakup proses pengadaan bahan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi makanan.

”Kalau ada kelalaian atau unsur pidana, harus diproses secara hukum supaya kejadian serupa tidak terulang di tempat lain,” ujarnya.

Baca Juga  DVI Polda Sumbar: 231 Korban Meninggal, 201 Telah Teridentifikasi per 7 Desember 2025

Kasus Kedua Keracunan MBG di Sumbar pada September

Peristiwa di MTsN 1 Kota Pariaman menjadi kasus kedua dugaan keracunan yang berkaitan dengan menu MBG di Sumatera Barat selama September 2026.

Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Pada Selasa (1/9/2026) dan Rabu (2/9/2026), sebanyak 344 orang yang terdiri dari siswa, guru, ibu menyusui, anak balita dan penerima manfaat lainnya mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Senin (31/8/2026).

Keluhan yang dilaporkan ketika itu meliputi sakit perut, mual, muntah, diare dan pusing.

Hasil pemeriksaan laboratorium yang diumumkan pada Kamis (10/9/2026) kemudian menemukan bakteri Bacillus cereus pada sampel cabai dan tahu semur dari menu MBG.

Berbeda dengan kasus di Palupuh yang hasil pemeriksaannya telah mengidentifikasi bakteri tertentu, penyebab kejadian di MTsN 1 Kota Pariaman masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Karena itu, kesimpulan mengenai sumber keracunan di Pariaman belum dapat dipastikan.

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan dalam program MBG, mulai dari kualitas bahan baku, kebersihan dapur, proses memasak, penyimpanan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh para penerima manfaat. (red)