ZONAPUBLIS – Kementerian PPN/Bappenas bersama PT Hutama Karya (Persero) tengah mematangkan koordinasi strategis untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur konektivitas di Sumatra Barat. Fokus utama saat ini tertuju pada rencana kelanjutan Jalan Tol Bukittinggi–Sicincin sepanjang 41,10 km serta penanganan koridor rawan bencana Lembah Anai.
Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris, menegaskan bahwa kunjungan lapangan pada Kamis (4/6) lalu bertujuan untuk melihat langsung tantangan teknis di lapangan.
“Jika koridor Bukittinggi–Sicincin ini nanti terhubung dengan ruas Sicincin–Padang, jaringan tol di Sumatra Barat akan berfungsi lebih utuh. Ini penting untuk mempercepat logistik sekaligus menjadi akses alternatif yang andal di wilayah rawan bencana seperti Lembah Anai,” ujar Abdul Malik.
Hutama Karya mencatat, dibukanya kembali akses Lembah Anai membawa dampak signifikan terhadap trafik Tol Sicincin–Padang (36 km) yang sudah beroperasi. Pada libur panjang akhir pekan lalu, volume kendaraan di ruas tol ini melonjak hingga lebih dari 80% dibanding hari normal—menjadikannya sebagai ruas dengan pertumbuhan trafik tertinggi di jaringan Hutama Karya.
Direktur Operasi III Hutama Karya, Iwan Hermawan, menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengeksekusi proyek lanjutan ini secara andal dan adaptif.
Berdasarkan kajian perencanaan, rampungnya Tol Bukittinggi–Sicincin diproyeksikan bakal meningkatkan efisiensi mobilitas di Sumatra Barat secara tajam dengan memangkas waktu tempuh hingga 55,91%, mengurangi jarak perjalanan sebesar 8,88%, sekaligus menjadi jalur vital yang menghubungkan jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Provinsi Riau.
Selain meninjau jalur tol, rombongan Bappenas juga meninjau langsung proyek strategis nasional lainnya pada Jumat (5/6), yaitu pembangunan Flyover Panorama I di kawasan ekstrem Sitinjau Lauik.
Proyek yang digarap oleh anak usaha HK, PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), sebagai solusi atas tingginya angka kecelakaan akibat jalur geometrik ekstrem pada koridor Padang–Solok ini, telah mencatat progres fisik konstruksi sebesar 18,755% dengan pembebasan lahan yang sudah tuntas 100% per 25 Mei 2026.
Direktur PT HPSL, Michael Arthur Paulus Rumenser, optimistis proyek ini berjalan lancar karena kendala lahan sudah teratasi sepenuhnya.
“Flyover Panorama I adalah langkah awal. Ke depan, proyek ini diharapkan memicu pengembangan Flyover Panorama II demi mewujudkan koridor transportasi yang aman, andal, dan berkelanjutan di Sumatra Barat,” ujar Michael.














