Lifestyle

Apa Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Agama Islam? Ini Penjelasannya

×

Apa Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Agama Islam? Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
images 2

ZONAPUBLIS – Momentum pergantian tahun sering kali identik dengan perayaan besar-besaran, mulai dari konvoi hingga pesta kembang api.

Namun, bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam secara luas, fenomena ini menuntut sikap kritis.

Alfain Jalaluddin Ramadlan, pimpinan pusat Muhammadiyah, pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan menjelaskan agama Islam tidak mengharamkan pergantian waktu, namun memberikan batasan tegas agar aktivitas manusia tetap selaras dengan nilai akidah, syariah, dan akhlakul karimah.

“Muhammadiyah, melalui perspektif Islam Berkemajuan, menegaskan bahwa setiap gerak langkah umat harus bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhi praktik kemaksiatan dan pemborosan,” katanya.

Normalisasi Maksiat dan Urgensi Amar Makruf

Salah satu sorotan utama adalah potensi normalisasi maksiat saat malam pergantian tahun.

Baca Juga  Awas Pahala Puasa Hangus, Hindari Gibah yang Bisa Membuat Ibadah Jadi Sia-Sia

Pesta pora yang diiringi pergaulan bebas dan minuman keras jelas bertentangan dengan firman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang melarang segala bentuk pendekatan terhadap zina.

“Masalah fundamentalnya bukan sekadar adanya dosa, melainkan munculnya persepsi bahwa maksiat adalah bagian dari tradisi tahunan,” jelasnya.

Dikatakannya, Muhammadiyah secara konsisten menolak logika ini demi menjaga kesadaran kolektif umat.

Pemborosan atau tabdzir dalam perayaan tahun baru, seperti membakar uang untuk kembang api, dipandang sebagai bentuk ketumpulan nurani sosial.

“Mengacu pada QS. Al-Isra’ ayat 27, para pemboros disebut sebagai saudara setan. Di tengah tuntutan keadilan sosial, membuang harta demi kesenangan sesaat merupakan pengingkaran terhadap etos Muhammadiyah yang memandang harta sebagai amanah dan alat perjuangan untuk kebermanfaatan,” terangnya.

Baca Juga  Ganggu Bacaan Al-Qur'an? Simak Hukum Menggunakan Gigi Palsu dalam Islam

Mentalitas Tasyabbuh dan Identitas Muslim

Persoalan lain yang mengemuka adalah tasyabbuh atau mental ikut-ikutan tanpa identitas. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka (HR. Abu Dawud).

Alfain Jalaluddin menekankan bahwa poin utamanya bukan pada penolakan kalender Masehi, melainkan pada penolakan budaya hedonis yang merusak ruh pembaruan Islam.

“Kegagalan terbesar dari euforia tahun baru adalah hilangnya ruang muhasabah. Padahal, pergantian tahun menandakan umur yang kian berkurang,” katanya.

Allah mengingatkan dalam QS. Al-Munafiqun ayat 9 agar kesibukan duniawi tidak melalaikan manusia dari mengingatNya.

Baca Juga  Hot Wheels Monster Trucks Live Hadir Pertama Kali di Indonesia! Cek Harga Tiket & Jadwalnya

Muhammadiyah menawarkan jalan tengah bukan merayakan angka, melainkan memaknai waktu. Islam Berkemajuan tidak menolak zaman, namun memberi arah pada zaman melalui:

  • Introspeksi diri dan evaluasi amal.
  • Penguatan keimanan dan keilmuan.
  • Perencanaan amal saleh untuk masa depan.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, orang yang cerdas adalah mereka yang menghisab diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.

“Tahun baru sudah sepatutnya menjadi titik tolak hijrah spiritual dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari euforia kosong menuju amal saleh yang nyata,” tutupnya. (*)