Lifestyle

Kato Nan Ampek Jadi Pedoman Bangun Rumah Tangga Sakinah

×

Kato Nan Ampek Jadi Pedoman Bangun Rumah Tangga Sakinah

Sebarkan artikel ini
Kato Nan Ampek Jadi Pedoman Bangun Rumah Tangga Sakinah

ZONAPUBLIS – Membangun rumah tangga sakinah membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan ekonomi. Komunikasi yang baik antara suami, istri dan anak menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Anggota DPR RI Komisi VIII, Lisda Hendrajoni, mendorong masyarakat, khususnya generasi muda yang akan memasuki kehidupan pernikahan, untuk menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Salah satunya melalui penerapan Kato Nan Ampek dalam berkomunikasi.

Menurut Lisda, keluarga merupakan salah satu bentuk ibadah terpanjang yang dijalani oleh suami dan istri. Karena itu, kehidupan rumah tangga perlu dipersiapkan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi mental, agama dan kemampuan berkomunikasi.

“Pernikahan itu bukan hanya tentang akad dan pesta. Setelah akad, ada perjalanan panjang yang harus dijalani bersama. Karena itu, suami dan istri harus memiliki kemampuan untuk saling memahami dan berkomunikasi dengan baik,” ujar Lisda.

Ia mengatakan, saat ini masih banyak generasi muda yang merasa takut untuk menikah. Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran adalah banyaknya kasus perceraian yang terjadi di tengah masyarakat.

Baca Juga  Bandros, Bus Wisata Ikonik Bandung yang Tetap Jadi Primadona Pelancong

Selain faktor ekonomi, menurutnya, persoalan komunikasi antara suami dan istri serta hadirnya orang ketiga juga dapat menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga.

Kato Nan Ampek Ajarkan Etika Berkomunikasi

Lisda menjelaskan, masyarakat Minangkabau memiliki warisan budaya yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga, yakni Kato Nan Ampek.

Kato Nan Ampek terdiri dari kato mandaki, kato manurun, kato malereng dan kato mandata. Filosofi tersebut mengajarkan seseorang untuk menempatkan cara berbicara sesuai dengan situasi, hubungan dan siapa yang menjadi lawan bicara.

Nilai tersebut, kata Lisda, sangat penting diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Suami dan istri harus mampu menyampaikan pendapat tanpa saling merendahkan, sementara orang tua juga perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak.

“Jangan sampai persoalan kecil menjadi besar hanya karena cara menyampaikannya tidak tepat. Komunikasi yang baik dapat membuat suami dan istri lebih mudah memahami perasaan dan persoalan masing-masing,” katanya.

Menurutnya, kato mandata dapat menjadi gambaran komunikasi yang setara antara pasangan suami istri. Sementara kato mandaki dan kato manurun mengajarkan bagaimana seseorang menghormati serta menyayangi orang yang lebih tua maupun yang lebih muda.

Baca Juga  Lisda Hendrajoni Ajak Kaum Perempuan Sumbar Jaga Persatuan Lewat Sosialisasi Empat Pilar

Sedangkan kato malereng mengajarkan cara menyampaikan sesuatu secara bijaksana dan penuh pertimbangan ketika menghadapi kondisi tertentu.

Suami dan Istri Punya Peran Penting

Lisda menekankan, membangun keluarga sakinah merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri. Keduanya memiliki peran masing-masing yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Menurutnya, seorang istri yang memiliki karier dan prestasi tinggi di luar rumah tetap memiliki peran penting sebagai istri dan ibu ketika berada di lingkungan keluarga.

“Perempuan boleh memiliki karier setinggi-tingginya. Tetapi ketika berada di rumah, tetap ada peran sebagai istri dan ibu. Begitu juga suami, harus bisa menjadi panutan dan tempat yang memberikan rasa aman bagi istri dan anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, hubungan suami istri hendaknya dibangun dengan kasih sayang, kepercayaan, saling menghormati dan komunikasi yang terbuka.

Perbedaan pendapat dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut seharusnya diselesaikan dengan komunikasi yang sehat, bukan dengan saling menyalahkan atau mencari pelampiasan di luar rumah.

Baca Juga  Anggota Komisi VI DPR RI Apresiasi Respons Cepat KAI Divre II Sumbar dalam Penanganan Dampak Bencana

Keluarga Jadi Sekolah Pertama bagi Anak

Lisda juga mengingatkan bahwa anak-anak merupakan pihak yang sangat merasakan dampak dari hubungan orang tua. Karena itu, orang tua harus memberikan contoh komunikasi dan perilaku yang baik di dalam rumah.

“Anak belajar pertama kali dari keluarganya. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah dan memperlakukan satu sama lain akan menjadi contoh bagi anak,” katanya.

Ia berharap nilai-nilai Kato Nan Ampek tidak hanya menjadi bagian dari budaya Minangkabau yang diwariskan secara lisan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun keluarga.

Dengan komunikasi yang baik, saling menghargai dan menjalankan peran masing-masing, diharapkan pasangan suami istri mampu menghadapi berbagai persoalan rumah tangga dengan lebih bijaksana.

“Rumah tangga adalah ibadah yang panjang. Maka yang harus dipersiapkan bukan hanya bagaimana melangsungkan pernikahan, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan setelah pernikahan. Bangunlah rumah dengan komunikasi, kasih sayang dan nilai-nilai agama serta budaya,” pungkas Lisda. (oc)