ZONAPUBLIS – Bencana banjir bandang atau galodo yang melanda Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, meninggalkan dampak kerusakan yang cukup parah.
Puluhan rumah warga dilaporkan rusak berat hingga rata dengan tanah, memaksa ratusan jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Sekretaris Nagari Sungai Batang, Ade Chandra, menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 itu tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan, tetapi juga merenggut korban jiwa serta merusak lahan pertanian dan sejumlah fasilitas umum milik warga.
“Sebanyak kurang lebih 80 unit rumah mengalami kerusakan berat. Sekitar 100 kepala keluarga masih harus bertahan di pengungsian,” ujar Ade, Selasa (16/12/2025).
Ia mengungkapkan, peristiwa tersebut juga menelan lima korban meninggal dunia yang seluruhnya berasal dari Jorong Labuah.
Hingga kini, para penyintas masih tersebar di beberapa titik pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan.
“Selain trauma, sebagian pengungsi mulai mengalami gangguan kesehatan. Kekhawatiran masih tinggi karena debit air sungai sesekali meningkat dan alurnya sudah bergeser mendekati permukiman,” jelasnya.
Ade menambahkan, meskipun bantuan kemanusiaan terus berdatangan, sebagian besar masih berupa kebutuhan pokok seperti bahan makanan dan pakaian.
Sementara itu, warga sangat membutuhkan peralatan kerja untuk membersihkan sisa lumpur dan material yang menimbun rumah-rumah mereka.
“Kami sangat memerlukan alat seperti pacul, gerobak, dan peralatan lainnya untuk membersihkan rumah dan lingkungan yang terdampak,” katanya.
Nagari Sungai Batang yang berada di kawasan pinggir Danau Maninjau memiliki kondisi geografis di kaki perbukitan, sehingga rentan terhadap bencana banjir bandang dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Dampak terparah umumnya terjadi di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai.
Di Sungai Batang sendiri, setidaknya tiga jorong dilaporkan mengalami kerusakan paling parah akibat galodo, yakni Jorong Labuah, Jorong Nagari, dan Jorong Kubu.
Hingga kini, warga bersama pemerintah nagari masih berupaya melakukan pembersihan dan pemulihan secara bertahap sambil menunggu bantuan lanjutan dari berbagai pihak.







