ZONAPUBLIS- Awalnya saya menganggap itu hanya sebuah sebutan yang terdengar manis. Tetapi semakin lama menjalani kehidupan sebagai istri pelaut, saya mulai memahami mengapa perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya berlayar sering mendapatkan gelar itu.
Sebab ternyata, menjadi istri pelaut bukan hanya perkara menunggu suami pulang. Ada banyak hal yang harus kami jalani sendirian.
Ketika anak sakit, kami yang panik sekaligus mencari solusi. Ketika anak harus berangkat sekolah, kami yang mengantar dan menjemput. Ketika anak membutuhkan sosok ayah, kami berusaha menjelaskan bahwa ayah sedang bekerja jauh di laut.
Ketika ada persoalan rumah tangga yang membutuhkan keputusan cepat, kami belajar mengambil keputusan sendiri. Ketika rumah berantakan, kami membereskannya. Ketika anak menangis, kami memeluknya. Ketika kami sendiri ingin menangis, sering kali kami justru menahannya.
Bukan karena kami tidak membutuhkan suami. Justru sebaliknya. Kami sangat membutuhkan suami.
Hanya saja, keadaan membuat kami harus terbiasa melakukan banyak hal tanpa kehadiran mereka.
Seorang istri pada umumnya mungkin bisa berbagi tugas dengan suami. Ada yang bekerja, ada yang mengurus anak, ada yang mengantar sekolah, ada yang memperbaiki sesuatu ketika rumah mengalami masalah.
Tetapi ketika suami berada berbulan-bulan di laut, pembagian peran itu menjadi berbeda.
Kami tidak hanya menjadi ibu. Dalam banyak keadaan, kami juga harus menjadi ayah. Disitulah saya merasa, sebutan Wonder Woman itu sebenarnya bukan tentang perempuan yang super kuat.
Kami juga lelah. Kami juga ingin dimanja. Kami juga ingin punya tempat bersandar. Kami juga ingin ketika pulang dari hari yang panjang, ada seseorang yang berkata, “Sudah, sini biar aku yang urus.”
Tetapi sering kali kalimat itu harus kami katakan kepada diri sendiri.
“Tidak apa-apa. Aku bisa.”
Padahal mungkin di dalam hati kami sedang berkata, “Aku ingin sekali tidak harus selalu bisa.”
Apalagi bagi istri pelaut yang juga bekerja. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada rumah yang harus diurus, ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, ada kebutuhan keluarga yang harus dipikirkan.
Menjadi ibu tidak mengenal jam kantor. Menjadi istri juga tidak mengenal hari libur. Bahkan menjadi istri pelaut membuat semuanya terasa semakin panjang karena ada jarak yang tidak bisa ditempuh hanya dengan beberapa menit perjalanan.
Namun, di balik semua itu, kami belajar satu hal, kesetiaan tidak selalu tentang siapa yang paling dekat secara fisik.
Kesetiaan adalah tentang bagaimana dua orang tetap menjaga komitmen meskipun dipisahkan jarak.
Suami berjuang di lautan. Kami berjuang di daratan. Mereka menghadapi ombak dan cuaca. Kami menghadapi rutinitas, anak-anak, kesepian, dan rindu. Keduanya sama-sama perjuangan.
Karena itu, jangan hanya melihat kehidupan keluarga pelaut dari apa yang tampak.
Mungkin benar, banyak keluarga pelaut yang secara finansial tercukupi. Rumah tersedia, kendaraan ada, kebutuhan anak terpenuhi.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan gaji sebesar apa pun, yaitu kehadiran.
Anak tidak hanya membutuhkan uang untuk tumbuh. Mereka membutuhkan ayah yang hadir. Istri tidak hanya membutuhkan nafkah.
Ia juga membutuhkan pasangan untuk berbagi cerita, berbagi lelah, dan sekadar menjadi tempat bersandar.
Oleh sebab itulah harga yang terkadang harus dibayar oleh sebuah keluarga pelaut.
Ada rezeki yang datang dari laut, tetapi ada rindu yang tinggal di darat.
Setiap kali suami berangkat, mungkin kami terlihat baik-baik saja. Kami tersenyum. Kami melambaikan tangan.
Kami mengatakan, “Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan.”
Tetapi setelah pintu tertutup dan langkah kaki itu semakin jauh, ada hati yang kembali belajar menerima kesepian.
Kemudian hari-hari berjalan. Kami kembali menjadi ibu. Sekaligus ayah dan pengurus rumah.
Sekaligus perempuan yang harus memastikan semuanya tetap baik-baik saja. Setiap malam, doa yang sama kembali kami langitkan.
Semoga lelaki yang sedang mencari nafkah di tengah samudera itu selalu dilindungi Allah.
Sebab kami tidak meminta suami pulang membawa dunia. Kami hanya ingin ia pulang dalam keadaan selamat.
Kami ingin anak-anak kembali memeluk ayahnya. Kami ingin kembali menjadi istri yang tidak harus selalu kuat.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari Wonder Woman bagi seorang istri pelaut.
Bukan perempuan yang tidak pernah lelah.
Bukan juga perempuan yang tidak pernah menangis.
Tetapi perempuan yang tetap menjalankan semuanya meski hatinya berkali-kali ingin menyerah.
Kami bukan Wonder Woman karena kami hebat, justru karena keadaan menuntut kami untuk kuat.
Di antara laut yang luas dengan daratan yang penuh penantian, kami memilih tetap setia.
Sebab bagi kami, sejauh apa pun suami pergi berlayar, rumah tetap menjadi tempat ia pulang, dan hati kami tetap menjadi tempat ia berlabuh.









