ZONAPUBLIS- Kondisi kabut asap yang semakin tebal menyelimuti Kota Padang mulai menimbulkan keresahan di kalangan orang tua siswa.
Kekhawatiran terutama dirasakan orang tua yang memiliki anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), yang dinilai masih rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.
Sejumlah orang tua mempertanyakan langkah Pemerintah Kota (Pemko) Padang yang hingga kini belum mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring, meski kualitas udara di Kota Padang telah masuk kategori sangat tidak sehat.
Salah seorang ibu murid TK, Sarina, mengaku kesal dengan kondisi tersebut. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan anak-anak seharusnya menjadi pertimbangan utama ketika kualitas udara sudah memburuk.
Ia berharap Pemko Padang tidak menunggu kondisi semakin parah untuk mengambil keputusan terkait proses belajar mengajar.
“Kami sebagai orang tua tentu sangat khawatir. Anak TK masih kecil, daya tahan tubuh mereka juga berbeda. Kalau kondisi udara sudah seperti ini, kenapa belum dialihkan belajar daring? Jangan sampai anak-anak sakit dulu baru ada tindakan,” ujar Sarina.
Kekhawatiran serupa disampaikan Vera, salah seorang ibu murid SD di Kota Padang. Ia mengatakan kondisi anak-anak di sekolah mulai terlihat terdampak kabut asap.
Menurutnya, sejumlah anak mulai mengalami keluhan seperti pilek dan mata memerah. Kondisi itu membuat para orang tua semakin khawatir ketika anak tetap harus mengikuti pembelajaran tatap muka.
“Kami melihat sendiri anak-anak di sekolah sudah banyak yang pilek, mata juga mulai merah. Kami bukan tidak ingin anak sekolah, tetapi dalam kondisi udara seperti ini keselamatan anak harus menjadi prioritas,” kata Vera.
Kekhawatiran orang tua tersebut muncul seiring memburuknya kualitas udara di Kota Padang.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara yang dikutip dari pemberitaan terbaru, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Padang berada pada kisaran 214 hingga 299, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Data resmi Pemko Padang pada Senin (7/9/2026) juga mencatat ISPU di kawasan Padang Pasir mencapai 214 dengan parameter dominan PM2,5.
Kondisi tersebut membuat paparan polusi udara menjadi perhatian serius, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Pemko Padang sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Padang Nomor 400.7.11/8/DKK-PDG/2026 tentang Mitigasi Kabut Asap terhadap Kesehatan. Pemko juga telah membagikan sebanyak 11.000 masker gratis kepada masyarakat sebagai salah satu langkah mengurangi dampak paparan udara yang memburuk.
Namun, bagi sebagian orang tua, pembagian masker dinilai belum cukup untuk menjawab kekhawatiran terhadap anak-anak yang setiap hari harus berada di lingkungan sekolah.
Para orang tua berharap Pemko Padang, khususnya di bidang pendidikan, segera mengambil langkah konkret dengan mempertimbangkan pembelajaran dari rumah atau daring selama kualitas udara berada pada level yang membahayakan.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang memang telah membuka opsi pembelajaran daring apabila kondisi kabut asap semakin memburuk. Namun, saat itu pembelajaran masih dilaksanakan secara tatap muka sambil menunggu perkembangan kualitas udara.
Bagi orang tua, kondisi terkini dinilai sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan evaluasi kembali terhadap keputusan tersebut.
Mereka menilai anak-anak TK dan SD belum sepenuhnya mampu memahami risiko paparan asap. Karena itu, keputusan untuk tetap melakukan pembelajaran tatap muka tidak seharusnya hanya mempertimbangkan keberlangsungan proses pendidikan, tetapi juga risiko kesehatan yang mungkin dialami siswa.
“Kami tentu mendukung pendidikan anak. Tapi kalau udara sudah sangat tidak sehat, apakah tidak lebih baik sementara belajar dari rumah? Pendidikan tetap berjalan, tetapi anak-anak tidak harus terpapar asap setiap hari,” ujar salah seorang orang tua.
Keresahan orang tua semakin kuat karena kabut asap yang menyelimuti Kota Padang tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi telah tercermin dari angka ISPU yang berada pada kategori sangat tidak sehat.
Sejumlah pihak juga mulai mendorong adanya langkah lebih tegas dari Pemko. Ombudsman Sumatera Barat, misalnya, telah mendesak Pemko Padang segera mempertimbangkan penerapan sekolah daring di tengah kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Masyarakat berharap persoalan ini tidak hanya direspons dengan pembagian masker, tetapi juga melalui kebijakan yang mampu mengurangi paparan anak terhadap udara yang tercemar.
Orang tua menilai, khususnya bagi siswa TK dan SD, belajar dari rumah untuk sementara waktu merupakan salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan hingga kualitas udara kembali ke kondisi yang lebih aman.
Di tengah kabut asap yang kian tebal, harapan masyarakat kini tertuju kepada Pemko Padang agar segera mengambil keputusan yang berpihak pada keselamatan dan kesehatan anak-anak.
Jangan sampai kebijakan baru diambil setelah semakin banyak anak mengalami gangguan kesehatan. Bagi para orang tua, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama.














