Berita

Harga Naik dan Stok Cabai Merah Sulit di Padang Akibat Banjir Bandang dan Putusnya Akses Jalan di Sumatera Barat

×

Harga Naik dan Stok Cabai Merah Sulit di Padang Akibat Banjir Bandang dan Putusnya Akses Jalan di Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini
20240308 Deputi Bapanas ungkap Alasan Kenaikan Harga Cabai Merah Besar di Pasaran
(Ilustrasi Cabai Merah) Harga naik dan stok cabai merah sulit di Sumatera Barat karena efek banjir bandang dan jalan rusak. (Istimewa)

IlusZONAPUBLIS — Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir menimbulkan dampak yang sangat luas bagi masyarakat.

Hujan deras yang turun tanpa henti disertai angin kencang telah memicu banjir bandang di berbagai daerah, merusak infrastruktur, memutus akses jalan, serta merendam ratusan rumah penduduk. Tidak hanya itu, bencana ini juga menelan korban jiwa.

Banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan ini mengakibatkan arus logistik dan distribusi bahan pangan terganggu, terutama dari daerah sentra produksi komoditas pertanian menuju Kota Padang.

Putusnya beberapa ruas jalan vital membuat kendaraan pengangkut hasil pertanian tidak dapat melintas secara normal.

Kondisi ini berimbas langsung pada ketersediaan kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional, terutama komoditas yang sangat bergantung pada pasokan harian, seperti cabai merah.

Baca Juga  Andre Rosiade Resmi Umumkan Nil Maizar sebagai Pelatih Baru Semen Padang FC

Pantauan ZonaPublis pada Sabtu (29/11/2026) di Pasar Lubuk Buaya, Kota Padang, menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pedagang yang menjual cabai merah. Rak-rak yang biasanya dipenuhi tumpukan cabai kini tampak kosong.

“Sudah dua hari cabai merah tidak masuk stoknya. Karena banyak jalan yang putus, pengiriman dari daerah penghasil terhambat,” ujar Rina, salah seorang pedagang.

Rina mengatakan bahwa kelangkaan cabai merah sudah diprediksi sejak dua hari sebelumnya ketika para pemasok mengabarkan adanya hambatan distribusi. Namun ia tidak menyangka situasi di pasar akan separah ini.

“Biasanya kalau terlambat, paling hanya beberapa jam. Tapi sekarang sama sekali tidak ada barang yang masuk,” tambahnya.

Kelangkaan ini berdampak langsung pada harga cabai merah di pasar lainnya. Di sejumlah titik yang masih memiliki sisa stok, harga komoditas tersebut meroket hingga dua kali lipat.

Baca Juga  Wapres Gibran Temui Mahasiswa di Istana, Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik dan Aspirasi

Hal itu dibenarkan oleh Netti Erina, seorang ibu rumah tangga yang ditemui ZonaPublis saat berbelanja kebutuhan dapur. Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang begitu drastis.

“Tadi saya ke Pasar Lubuk Buaya, kosong total. Lalu saya coba ke Pasar Pasia Nan Tigo, ternyata habis juga. Ada sedikit stok terakhir, langsung diborong pembeli lain. Ketika saya tanya harganya, ternyata Rp 120 ribu per kilo,” jelasnya.

Harga tersebut jauh di atas harga normal yang berada di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram.

Menurut Netti, kondisi ini membuat banyak ibu rumah tangga harus mengubah menu masakan harian agar tetap hemat.

Baca Juga  Mahyeldi Kumpulkan Forkopimda Bahas Narkoba dan Persoalan Sosial, Soroti Indikasi Produksi Narkoba di Sumbar

“Biasanya kalau mahal, saya beli sedikit. Tapi kalau kosong dan harganya setinggi itu, ya terpaksa tidak beli,” ujarnya.

Sejumlah pedagang memperkirakan bahwa kelangkaan cabai merah dan komoditas lain masih akan berlangsung selama akses jalan belum pulih.

Mereka berharap pemerintah bergerak cepat membuka jalur alternatif atau mempercepat perbaikan pada ruas yang terdampak banjir bandang.

Netti juga menyampaikan harapan yang sama. Ia berharap pemerintah daerah segera mengatasi persoalan distribusi agar harga pangan kembali stabil.

“Kami berharap pemerintah bisa segera memperbaiki akses jalan atau menyalurkan pasokan dari jalur lain. Ini kebutuhan pokok, jadi sangat berdampak bagi masyarakat kecil,” katanya.