OPINI — Harmalia Ocha
ZONAPUBLIS – Sebagai seorang ibu, ada satu pemandangan yang belakangan ini terasa begitu mengganggu pikiran saya: anak-anak kecil memakai masker di tengah kabut asap.
Mereka tetap harus berangkat sekolah. Tetap harus keluar rumah. Tetap ingin bermain, berlari, dan menjalani hari seperti anak-anak lainnya.
Tetapi hari-hari ini, bahkan untuk sekadar menghirup udara dengan nyaman pun mereka seperti tidak punya pilihan.
Kabut asap semakin tebal. Masker mulai dibagikan. Warga mulai memburunya.
Saya tentu mengapresiasi siapa pun yang turun tangan membagikan masker. Di tengah situasi seperti ini, kepedulian sekecil apa pun sangat berarti.
Tetapi sebagai seorang ibu, saya tidak bisa berhenti pada pertanyaan, “Sudah berapa masker yang dibagikan?”
Saya justru bertanya:
“Setelah memakai masker, apakah anak-anak kita benar-benar sudah aman?”
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Masker membantu mengurangi paparan terhadap partikel berbahaya, tetapi masker bukan solusi untuk membuat udara kembali bersih.
Dan yang membuat saya semakin khawatir adalah ketika kondisi ini berlangsung berhari-hari.
Anak-anak tidak hanya keluar rumah sekali.
Mereka pergi dan pulang sekolah. Menunggu kendaraan. Berjalan di pinggir jalan. Bermain. Beraktivitas. Sementara udara yang mereka hirup tetap sama.
Sebagai ibu, rasanya ada kekhawatiran yang sulit dijelaskan.
Kita bisa mengingatkan anak memakai masker.
Kita bisa melarang mereka bermain di luar.
Kita bisa menutup pintu dan jendela rumah.
Tetapi kita tidak mungkin membuat mereka berhenti bernapas.
Udara adalah kebutuhan paling dasar manusia. Dan anak-anak tidak punya pilihan untuk memilih udara seperti apa yang ingin mereka hirup.
Mereka hanya menghirup apa yang ada di sekelilingnya.
Di sinilah menurut saya kita perlu melihat persoalan ini lebih jauh.
Pembagian masker penting. Tetapi jangan sampai masker justru menjadi tanda bahwa persoalan sudah dianggap selesai.
Bagaimana dengan kualitas udara?
Bagaimana dengan anak-anak yang harus tetap sekolah?
Bagaimana dengan bayi, ibu hamil, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan?
Bagaimana dengan keluarga yang tidak mampu membeli masker berkali-kali?
Bagaimana dengan masyarakat yang setiap hari harus bekerja di luar ruangan untuk memenuhi kebutuhan hidup?
Dan ketika harga masker mulai naik, pertanyaan lain pun muncul.
Jangan sampai di tengah masyarakat yang sedang takut terhadap kesehatan keluarganya, ada pihak yang justru melihat kepanikan itu sebagai peluang untuk meraup keuntungan berlebihan.
Mencari keuntungan itu wajar. Tetapi mengambil keuntungan dari kepanikan dan kesulitan orang lain adalah persoalan nurani.
Saya membayangkan seorang ibu yang memiliki dua atau tiga anak.
Pagi-pagi ia harus menyiapkan anak sekolah.
Ia melihat langit yang kelabu.
Ia melihat kabut.
Ia memasangkan masker ke wajah anaknya, lalu mungkin dalam hati bertanya:
“Aman tidak anak saya pergi sekolah hari ini?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar kecil.
Tetapi bagi seorang ibu, itu bisa menjadi kecemasan yang terus dibawa sepanjang hari.
Sebab kita tidak sedang bicara tentang orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri.
Kita sedang bicara tentang anak-anak.
Anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya mengapa mereka harus memakai masker.
Anak-anak yang mungkin hanya tahu bahwa hari ini udara terasa berbeda.
Anak-anak yang seharusnya berlari di halaman, tetapi justru harus dibatasi aktivitasnya.
Anak-anak yang seharusnya sibuk dengan buku, permainan, dan cita-cita bukan dengan kualitas udara dan masker.
Karena itu, saya kira respons terhadap kabut asap tidak boleh berhenti pada aksi bagi-bagi masker.
Kita membutuhkan informasi kualitas udara yang jelas dan mudah dipahami masyarakat.
Kita membutuhkan edukasi tentang kapan anak sebaiknya berada di dalam ruangan.
Kita membutuhkan perhatian khusus terhadap kelompok rentan.
Kita membutuhkan kebijakan yang benar-benar melindungi masyarakat ketika kualitas udara memburuk.
Dan tentu saja, kita membutuhkan upaya serius untuk mengatasi sumber persoalannya.
Sebab masker tidak seharusnya menjadi satu-satunya benteng pertahanan masyarakat dari udara yang tidak sehat.
Saya tidak ingin melihat anak-anak kita tumbuh dengan anggapan bahwa memakai masker di tengah udara tercemar adalah sesuatu yang normal.
Saya tidak ingin suatu hari nanti kita menganggap langit penuh asap sebagai pemandangan biasa.
Dan saya tidak ingin kepedulian kita berhenti pada satu paket masker yang dibagikan, satu foto yang diunggah, lalu selesai.
Karena sebagai ibu, yang saya inginkan sebenarnya sederhana:
Saya ingin anak-anak bisa bernapas dengan bebas.
Saya ingin mereka pergi sekolah tanpa membuat orang tua terus-menerus cemas.
Saya ingin mereka bermain tanpa harus memikirkan apakah udara hari itu aman.
Saya ingin mereka tumbuh di lingkungan yang sehat, bukan lingkungan yang memaksa mereka belajar bertahan dari polusi.
Jadi, di tengah kabut asap ini, mari kita terus berbagi masker. Mari terus membantu sesama.
Tetapi mari juga berani bertanya lebih jauh.
Bukan hanya:
“Berapa banyak masker yang sudah dibagikan?”
Melainkan:
“Sudah seberapa jauh kita melindungi anak-anak kita dari udara yang mereka hirup setiap hari?”
Karena mereka tidak memilih kabut asap ini.
Mereka tidak memilih udara yang tercemar.
Dan mereka tidak punya suara sebesar kita untuk menuntut perlindungan.
Kitalah orang dewasa yang harus bersuara untuk mereka.
Di tengah kabut asap, jangan sampai yang tertutup bukan hanya langit.
Jangan sampai nurani kita ikut tertutup.
— Harmalia Ocha
Jurnalis | Founder Zonapublis.id
(*)














