ZONAPUBLIS Fenomena perselingkuhan memang sering dibicarakan akhir-akhir ini dan dianggap seperti “tren” baru dalam dinamika rumah tangga. Bukan berarti perselingkuhan meningkat secara drastis, tetapi eksposurnya jauh lebih besar dan lebih mudah terlihat.
Dulu perselingkuhan terjadi diam-diam dan jarang terbongkar, sekarang dengan media sosial jejak komunikasi mudah ditemukan, banyak kasus viral, masyarakat mudah ikut mengomentari seolah-olah kasusnya makin banyak, padahal mungkin hanya lebih terlihat.
Para pakar menyebut media sosial jadi penyebab utama kasus-kasus ini terlihat meningkat. Bukti chat, DM, dan rekaman mudah tersebar, sehingga membuat perselingkuhan lebih cepat viral.
Selain itu, tekanan ekonomi, kurangnya komunikasi, dan kedekatan emosional di dunia digital disebut menjadi pemicu terbesar munculnya affair.
Fenomena drama perselingkuhan yang marak di film, webseries, hingga konten kreator TikTok juga dinilai memberikan dampak. Meski tidak secara langsung mendorong seseorang berselingkuh, namun derasnya konsumsi konten bertema “affair” membuat persoalan ini terasa dekat dan seolah menjadi bagian dari budaya populer.
Para ahli mengingatkan: perselingkuhan bukan sekadar tren, ini tanda bahwa hubungan butuh perhatian, komunikasi, dan batasan yang jelas.
Jadi intinya perselingkuhan bukan fenomena baru, tetapi era digital membuatnya lebih tampak seperti trend. Kenyataannya, ia tetap merupakan masalah klasik hubungan yang akar utamanya sering datang dari komunikasi yang rusak, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dan kurangnya komitmen.







