Seni & Budaya

Sejarah Asal-Usul Tabuik : Dari Bengkulu ke Pariaman

×

Sejarah Asal-Usul Tabuik : Dari Bengkulu ke Pariaman

Sebarkan artikel ini
IMG 20260122 WA0003
Sumber Foto: https://pin.it/5mGZtn0gB

ZONAPUBLIS- Secara etimologis, kata “Tabuik” berasal dari bahasa Arab *tabut* yang berarti peti kayu,. Tradisi ini pada dasarnya merupakan upacara peringatan hari Asyura (10 Muharram) untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, dalam perang di Karbala,.

Sejarah masuknya tradisi Tabuik ke Pariaman memiliki kaitan erat dengan pertukaran wilayah kolonial Inggris dan Belanda di Sumatera.

Pembawa Tradisi: Tradisi ini diperkenalkan oleh tentara Sepoy (Sipahi), yaitu pasukan Inggris yang berasal dari India (Tamil/Madras) dan beragama Islam (Syi’ah),. Awalnya, pasukan ini ditempatkan di Bengkulu saat wilayah tersebut masih di bawah kekuasaan Inggris.

Migrasi ke Pariaman Setelah Traktat London (Perjanjian London) pada tahun 1824, terjadi pertukaran wilayah di mana Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda. Akibatnya, pasukan Islam Tamil di Bengkulu menyebar, dan sebagian sampai ke Pariaman.

Waktu KemunculanbDiperkirakan tradisi ini mulai muncul dan dilaksanakan di Pariaman sekitar tahun 1826–1831 Masehi.

Baca Juga  Detail Batik Minangkabau Sebagai Seni Menulis di Atas Kain

Proses Akulturasi dan Domestikasi Budaya
Meskipun berakar dari tradisi Syi’ah yang dibawa oleh pendatang India, Tabuik telah mengalami proses “domestikasi” atau penyesuaian yang kuat dengan budaya lokal Minangkabau yang mayoritas menganut Islam Sunni.

Proses akulturasi ini mengubah Tabuik dari ritual ratapan kematian Syi’ah menjadi perayaan budaya (pesta budaya) milik masyarakat Pariaman.

Proses perpaduan budaya ini melahirkan berbagai bentuk akulturasi yang unik.

Penyatuan Simbol Islam dan Adat Minangkabau Salah satu wujud akulturasi visual yang paling menonjol adalah bentuk “Buraq” (makhluk berbadan kuda bersayap) pada konstruksi Tabuik.

Kepala Wanita Kepala Buraq divisualisasikan berwajah wanita. Ini merupakan simbolisasi “Bundo Kanduang” dalam budaya matrilineal Minangkabau, yang merepresentasikan kehormatan, kebijaksanaan, dan kelembutan seorang ibu.

Ornamen Lokal Tubuh Tabuik dihiasi dengan motif ukiran khas Minangkabau seperti *itik pulang patang*, *pucuak rabuang*, dan *kaluak paku*, yang mengandung filosofi kerukunan dan musyawarah.

Baca Juga  Arti dan Makna Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan, Soundtrack Pilu Bencana Sumatera

Filosofi “Perjalanan yang Rata” Bentuk kuda berkepala manusia ini dimaknai secara filosofis sebagai “perjalanan yang rata”, menyimbolkan bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan.

Pembagian Wilayah Adat (Tabuik Pasa dan Subarang) Pada tahun 1910-1915, terjadi kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan dengan tata krama adat Minangkabau. Hal ini melahirkan pembagian dua kelompok pelaksana tabuik.

1. Tabuik Pasa Berada di selatan sungai, dianggap sebagai wilayah asal mula tradisi.

2. Tabuik Subarang Berada di utara sungai (Kampung Jawa), yang awalnya dihuni oleh para pendatang.
Penyatuan dua tabuik ini pada puncak acara melambangkan persatuan di tengah perbedaan.

Transformasi Makna Ritual Prosesi membuang Tabuik ke laut tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai ritual berkabung Syi’ah, melainkan dimaknai secara kultural sebagai simbol melepaskan kedukaan, membuang sial, dan kerelaan melepas kepergian mereka yang sudah meninggal.

Baca Juga  Pramuka Jadi Sarana Pembentukan Karakter Warga Binaan di Lapas Perempuan Padang

Dinamika Perkembangan Dari Ritual ke Wisata Seiring berjalannya waktu, eksistensi Tabuik mengalami pergeseran fungsi dan makna akibat intervensi kebijakan pemerintah dan modernisasi.

Pergeseran Nama dan Fungsi: Pada masa Orde Baru, istilah “Tabuik Adat” bergeser menjadi “Tabuik Pembangunan” yang disusupi pesan-pesan pembangunan pemerintah,. Kini, istilah tersebut berkembang menjadi “Tabuik Wisata” atau “Tabuik Piaman”.

Desakralisasi Waktu: Demi kepentingan pariwisata agar ramai pengunjung, waktu puncak acara (pembuangan ke laut) sering kali digeser agar bertepatan dengan hari libur (Minggu), tidak lagi terpaku ketat pada tanggal 10 Muharram secara sakral.

Secara keseluruhan, Tabuik di Pariaman adalah hasil sintesis unik antara sejarah Islam (Peristiwa Karbala), warisan pendatang India (Sepoy), dan kearifan lokal Minangkabau yang telah “didomestikasi” sehingga kini diakui sepenuhnya sebagai identitas budaya asli masyarakat Pariaman.