ZONAPUBLIS – Lebih dari dua pekan setelah banjir bandang pada 26 November 2025 meluluhlantakkan Aceh Tamiang, ribuan warga penyintas masih menghadapi kenyataan pahit hidup di pengungsian darurat.
Di kawasan Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, warga kini mendirikan tenda-tenda seadanya di atas jembatan Sungai Tamiang, mengandalkan bantuan BNPB yang baru didistribusikan beberapa hari terakhir.
Total 216 desa di 12 kecamatan dilaporkan porak-poranda, menyebabkan 58 orang meninggal dunia, dan memaksa 209.460 jiwa mengungsi.
Gabriel, seorang ibu dua anak yang bertahan di pengungsian, menceritakan betapa gentingnya situasi sebelum bantuan tiba.
“Baru semalam ini dikasih ke kami bang. Sebelumnya kami di sana dengan terpal seadanya,” ujar Gabriel, Kamis lalu (11/12/2025).
Kondisi pengungsian pun jauh dari ideal. Gabriel mengungkapkan bahwa tenda bantuan yang dijanjikan untuk satu keluarga harus dibagi.
“Awalnya satu kepala keluarga dijanjikan satu tenda, namun pada kenyataannya satu tenda harus diisi dua hingga tiga keluarga,” ungkapnya.
Kunjungan Presiden dan Tantangan Logistik di Lapangan
Kondisi ini menjadi latar belakang saat Presiden ke-8 Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan pertamanya ke wilayah Aceh Tamiang dua hari setelah tenda-tenda BNPB mulai digunakan.
Saat ini, meski dapur umum telah beroperasi dan menyediakan kebutuhan logistik harian.
“Kalau makan, ada dapur umum. Kalau mau makan, kami ambil ke sana,” kata Gabriel dengan harapan tantangan terbesar yang dihadapi pengungsi adalah akses terhadap air bersih.
Para penyintas harus berjuang untuk memperoleh air, baik untuk minum maupun membersihkan diri.
“Di sini berbagi. Nanti terkadang ada mobil bawa air yang lewat. Itu lah kami tampung,” ungkap Gabriel, menyoroti kesulitan mendapatkan pasokan air bersih yang konsisten dan memadai.
Ancaman Kesehatan dan Harapan Pemulihan
Kondisi sanitasi dan lingkungan darurat mulai berdampak pada kesehatan pengungsi. Gabriel terpaksa mengungsikan dua anaknya ke rumah saudara di Kota Langsa agar mendapatkan penanganan medis.
“Anak kami mulai sakit gatal-gatal. Makanya dibawa ke sana untuk berobat,” ucapnya lirih.
Dengan banyak rumah yang hilang tersapu banjir, para penyintas di jembatan tidak mengetahui kapan mereka bisa meninggalkan tenda pengungsian.
Sebagian warga telah memulai pembersihan rumah dari lumpur, sementara fasilitas umum seperti perkantoran, sekolah, dan puskesmas masih lumpuh total akibat kerusakan berat.
Meskipun jalanan utama yang sebelumnya dipenuhi kendaraan bergelimpangan sudah mulai dibersihkan setelah dua pekan, proses pemulihan infrastruktur dan relokasi warga masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah setempat. (*)














