ZONAPUBLIS – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh berdampak signifikan terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengakui bahwa tantangan utama saat ini bukan pada ketersediaan stok, melainkan terhambatnya jalur distribusi akibat kerusakan infrastruktur.
Berdasarkan data Pertamina, gangguan distribusi energi terjadi di 16 kabupaten/kota di Aceh. Sejumlah ruas jalan dan jembatan rusak atau terputus, sehingga menyulitkan mobil tangki menjangkau SPBU dan agen LPG di wilayah terdampak.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi AS, mengatakan kondisi tersebut menyebabkan sebagian fasilitas layanan energi ikut terdampak.
Dari total 156 SPBU di Aceh, sebanyak 15 SPBU atau sekitar 10 persen mengalami gangguan operasional. Selain itu, 13 dari 133 agen LPG juga terdampak akibat keterbatasan akses distribusi.
“Permasalahan utama yang kami hadapi adalah terputusnya jalur distribusi darat, bukan kekurangan stok. Jalan dan jembatan yang rusak membuat penyaluran energi ke beberapa wilayah menjadi tidak optimal,” ujar Fahrougi di Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).
Meski demikian, Pertamina memastikan stok energi di Aceh masih berada dalam kondisi aman. Saat ini tercatat cadangan sekitar 844 kiloliter (KL) gasoline, 633 KL gasoil atau solar, serta 319 metrik ton (MT) LPG.
Namun, stok tersebut harus didistribusikan dengan skema khusus karena keterbatasan akses.
Untuk mengatasi hambatan distribusi, Pertamina menerapkan berbagai langkah alternatif. Di wilayah terisolir seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah, penyaluran BBM dilakukan melalui jalur udara menggunakan Air Tractor sejak 13 Desember 2025.
Total BBM yang telah disalurkan melalui metode ini mencapai 22.000 liter, terdiri dari Biosolar dan Pertalite.
Selain itu, terputusnya jalur darat Lhokseumawe–Banda Aceh memaksa Pertamina mengalihkan distribusi LPG melalui jalur laut. Kapal Ro-Ro dikerahkan untuk mengangkut 25 skid tank dengan total kapasitas sekitar 375 ton LPG guna menjaga pasokan di Banda Aceh dan wilayah sekitarnya.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan LPG 3 kilogram di sejumlah titik mendorong dilakukannya operasi pasar. Bersama pemerintah daerah, Pertamina menggelar operasi pasar LPG subsidi di puluhan lokasi di Banda Aceh dan Aceh Besar selama periode 6–18 Desember 2025, dengan total penyaluran mencapai 20.720 tabung.
Distribusi darat mulai berangsur normal setelah Jembatan Teupin Mane di Kabupaten Bireuen kembali dibuka. Mobil tangki kembali melayani rute Bireuen–Bener Meriah–Takengon dengan penguatan armada dan pengamanan di titik-titik prioritas.
“Normalisasi distribusi dilakukan bertahap seiring pemulihan infrastruktur. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, BPBD, serta TNI-Polri untuk memastikan distribusi energi berjalan aman dan tertib,” kata Fahrougi.
Pertamina juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM dan LPG secara berlebihan. Menurutnya, kepanikan justru dapat memperburuk distribusi di tengah kondisi darurat.
“Stok tersedia, tetapi distribusinya membutuhkan waktu karena kondisi lapangan. Kami berharap masyarakat tetap tenang agar penyaluran energi bisa merata,” pungkasnya.














