Berita

Ancaman Banjir Susulan Mencekam di Palembayan Agam

×

Ancaman Banjir Susulan Mencekam di Palembayan Agam

Sebarkan artikel ini
IMG 1579

ZONA PUBLIS – Ancaman serius berupa banjir bandang susulan kembali melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada Minggu (7/12/2025).

Dipicu oleh curah hujan deras sedari siang hingga sore hari, peristiwa ini menyebabkan debit dan kekeruhan air Sungai Salareh Aia meningkat drastis secara tiba-tiba.

Kondisi mencekam tersebut sontak memicu kepanikan dan trauma mendalam bagi warga lokal maupun petugas di lapangan yang belum pulih dari bencana sebelumnya.

Mereka menyaksikan dengan waspada bagaimana air sungai membesar dengan cepat dan keruh, mengulang memori kelam yang belum lama berlalu.

Baca Juga  Menkes Dorong Layanan Operasi Bypass Stroke Diperluas ke Seluruh Indonesia

Indra, salah seorang petugas yang bertugas di lokasi pembersihan, turut merasakan ketegangan.

Ia menyaksikan warga bereaksi histeris dan spontan menyelamatkan diri.

“Tadi warga teriak air besar, lari,” katanya, menggambarkan respons spontan warga untuk menyelamatkan diri dari arus deras yang datang tiba-tiba.

Situasi darurat ini berdampak langsung pada operasional kemanusiaan di lapangan.

Petugas yang sebelumnya menerapkan sistem buka-tutup jalan untuk membersihkan puing-puing kini harus menghadapi risiko ganda dari arus deras dan ancaman longsor susulan.

Ketidakpastian ini juga secara signifikan menghambat upaya pengiriman bantuan.

Baca Juga  HKA Perkuat Kompetensi Penanganan Kecelakaan Berbasis Praktik Nyata

Susilo (44), seorang relawan dari Jawa Tengah terpaksa memutar balik kendaraannya beserta kelompoknya setelah mencoba mencari jalur aman untuk mengirimkan logistik.

“Pindah, pindah, cuaca kurang bagus,” ujarnya memutuskan bahwa risiko yang ditanggung terlalu tinggi.

Keputusan untuk memutar balik ini diambil oleh banyak kelompok relawan lain, mengindikasikan bahwa kondisi di Palembayan masih sangat rentan.

Banjir susulan ini menjadi pengingat bahwa Palembayan masih berada dalam fase kritis bencana, menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dan penundaan aktivitas non-esensial di kawasan rawan. (*)

Baca Juga  Kejati Sumbar Salurkan 100 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Bencana di Kota Padang