BeritaLifestyle

Fenomena Les sejak Dini

×

Fenomena Les sejak Dini

Sebarkan artikel ini
IMG 1816

ZONAPUBLIS  Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak orang tua di Indonesia yang mendaftarkan anak-anak mereka, bahkan sejak usia pra-sekolah atau TK/PAUD ke berbagai les atau kelas tambahan. Tren ini memicu beragam reaksi dari para psikolog anak, yang menekankan pentingnya pertimbangan matang sebelum memutuskan “les sejak dini.”

Beberapa psikolog melihat bahwa les atau aktivitas edukatif sejak usia dini bisa bermanfaat, asal metode dan tujuan les sesuai perkembangan anak.

Menurut artikel publikasi tahun 2024, les privat untuk anak TK sebelum usia sekolah formal ternyata “tidak meningkatkan kemampuan bahasa atau pemecahan masalah secara signifikan” dalam jangka pendek. Bahkan, ada indikasi bisa “merusak harga diri” anak karena tekanan.  

Baca Juga  TNI AL Kerahkan 11 Kapal Cari Lima Jurnalis dan Tiga Kru Kapal yang Hilang Kontak

Psikolog dari lembaga terapi anak menyebutkan bahwa memaksa anak belajar terlalu dini tanpa memperhatikan kebutuhan bermain, eksplorasi, dan perkembangan emosional, bisa menyebabkan penurunan minat belajar, kelelahan, bahkan memengaruhi motivasi dan cara mereka melihat belajar di masa dewasa.  

Pada masa usia dini, menurut pakar perkembangan anak, fokus utama bukan pada akademik berat, melainkan pada eksplorasi, bermain, kelekatan emosional, dan belajar melalui pengalaman. Usia 0–5 tahun dianggap masa sensitif di mana perlu keseimbangan antara stimulasi dan kebutuhan emosional dasar. 

Baca Juga  BNPB Perbarui Data Gempa M7,7 NTT: 47 Meninggal, Bantuan 275 Ton Dikirim

Artinya, les sejak dini bukan jaminan keberhasilan akademik atau perkembangan optimal dan bisa jadi kontraproduktif jika orang tua mengejar “prestasi” tanpa memperhatikan kesiapan anak.

Tren menempatkan anak pada les sejak dini bisa menawarkan peluang terutama jika anak suka, metode sesuai, dan orang tua peka terhadap kebutuhan emosional serta fisik mereka. Namun, tidak ada jaminan les sejak dini selalu membawa manfaat positif. Bagi sebagian anak, les sejak dini malah justru menjadi beban, mengurangi ruang bermain, atau menimbulkan stres emosional.

Baca Juga  Tingkatkan Keamanan, Polsek Batipuh Selatan Patroli di Objek Wisata Tanjung Mutiara

Jadi kesimpulannya menurut para psikolog, kunci utamanya adalah keseimbangan, kesensaraan terhadap kebutuhan anak, dan fleksibilitas, bukan semata mengejar prestasi akademik.