ZONAPUBLIS– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Hal itu berdasarkan pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat (Dit. Koordalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) periode Jumat (28/8/2026) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 07.00 WIB.
BNPB mencatat sejumlah kejadian karhutla, di antaranya terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan; Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah; serta Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Selain karhutla, banjir juga melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kebakaran menghanguskan lahan sekitar dua hektare pada Jumat (28/8/2026). Titik api berada di Maccorawalie, Kecamatan Watang Sawitto.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang bersama tim gabungan lintas instansi melakukan pemadaman. Api berhasil dipadamkan dan kondisi wilayah terdampak dilaporkan telah aman.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Banjir Rendam Lima Desa di Parigi Moutong
Sementara itu, banjir melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Banjir berdampak pada lima desa di Kecamatan Kasimbar, yakni Desa Labuan Donggulu, Laemanta, Peningka, Lemanta Utara dan Kasimbar. Sebanyak 190 kepala keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa tersebut.
BPBD Kabupaten Parigi Moutong melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan aparat desa. Petugas juga memobilisasi alat berat untuk membantu membersihkan jalur Trans Sulawesi yang terdampak.
1,5 Hektare Lahan Terbakar di Banyumas
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Kamis (27/8/2026). Kebakaran melanda lahan sekitar 1,5 hektare di Desa Tipar, Kecamatan Rawalo.
Petugas gabungan melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan pada Jumat (28/8/2026).
BNPB bersama pemerintah daerah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan kondisi lahan kering. Pemantauan perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi menimbulkan kebakaran kembali.
Karhutla Lumajang, 170 Pendaki Berhasil Dievakuasi
Kejadian lebih luas terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kebakaran lahan di Blok/Petak Pangonan Cilik BBTN Bromo menghanguskan sekitar 13 hektare lahan.
Kebakaran terjadi di wilayah Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, serta Desa Ranupane dan Desa Argosari, Kecamatan Senduro.
Peristiwa tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pendakian. Sebanyak 170 pendaki sempat terjebak di kawasan Ranukumbolo pada Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan laporan pada Jumat (28/8/2026), masih terdapat titik api di atas Pos 4 yang akan segera ditangani oleh tim gabungan. Sementara itu, seluruh pendaki yang berada di Ranukumbolo berhasil dievakuasi dan telah berada di Kantor Resort Ranupane.
BNPB Ingatkan Ancaman Karhutla Selama Musim Kering
BNPB mengingatkan kondisi cuaca yang cenderung kering di sejumlah wilayah dapat meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran untuk membuka maupun membersihkan lahan.
Selain itu, masyarakat diimbau tidak membuang puntung rokok atau benda lain yang dapat memicu api secara sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Pemerintah daerah juga diminta memperkuat patroli dan pemantauan di kawasan rawan karhutla, memastikan kesiapan personel serta peralatan, dan mempercepat penanganan apabila kebakaran mulai terdeteksi.
BNPB menegaskan kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Kecepatan masyarakat dalam menyampaikan informasi, respons petugas di lapangan serta koordinasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mencegah bencana berkembang lebih luas.
Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak panik, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait.
BNPB bersama pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan situasi sekaligus mendorong penguatan pencegahan dan kesiapsiagaan di wilayah yang memiliki potensi ancaman bencana.














