BeritaBudayaEnsiklopediaWisata

Kontroversi, Sejarah, dan Transformasi Hoyak Tabuik di Pariaman: Dari Ritual Asyura hingga Festival Budaya

×

Kontroversi, Sejarah, dan Transformasi Hoyak Tabuik di Pariaman: Dari Ritual Asyura hingga Festival Budaya

Sebarkan artikel ini
images 6

“Setelah pembahasan sebelumnya mengenai asal-usul Hoyak Tabuik di Pariaman. Dan memahami sejarah dasarnya, artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai perkembangan, kontroversi, serta dampak sosial budaya yang ditimbulkan.”

Tradisi yang Selalu Menarik Perhatian dan Perdebatan

ZONAPUBLIS – Di sepanjang pesisir Pariaman, Sumatera Barat, setiap tahun sebuah peristiwa budaya selalu menjadi pusat perhatian. Suara gandang tasa menggema, ribuan orang memadati jalanan, dan sebuah struktur raksasa berbentuk menara dihias warna-warni diarak menuju pantai. Inilah Hoyak Tabuik, sebuah tradisi yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Pariaman sekaligus salah satu festival paling terkenal di Sumatera Barat.

Namun di balik kemegahannya, Hoyak Tabuik bukan hanya soal festival dan hiburan rakyat. Tradisi ini memiliki sejarah panjang, akar lintas budaya, serta perdebatan yang tidak jarang menimbulkan perbincangan serius di tengah masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai warisan budaya, sementara sebagian lain mempertanyakan akar sejarah dan makna religius yang melekat di dalamnya.

Untuk memahami Hoyak Tabuik secara utuh, kita tidak bisa hanya melihat permukaannya sebagai festival tahunan. Kita perlu menelusuri perjalanan sejarahnya, bagaimana ia masuk ke Pariaman, bagaimana ia berubah, dan bagaimana masyarakat Minangkabau menafsirkannya kembali dalam konteks adat dan Islam.

Akar Sejarah: Dari Peristiwa Karbala ke Tradisi Asyura

Sejarah Hoyak Tabuik tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Tragedi Karbala pada tahun 680 M.

Peristiwa ini terjadi ketika Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, gugur dalam pertempuran melawan pasukan Yazid di padang Karbala (sekarang Irak). Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah Islam dan diperingati setiap tanggal 10 Muharram (Asyura).

Dalam tradisi Islam Syiah, peringatan Asyura dilakukan dengan berbagai bentuk ritual duka, termasuk prosesi simbolik yang menggambarkan kesedihan atas gugurnya Husain.

Salah satu simbol penting dalam peringatan tersebut adalah tabut atau tabuik, yaitu keranda simbolik yang menggambarkan makam Husain.

Baca Juga  Pertamina Sanksi 31 SPBU di Sumbar, Enam Diusulkan Beralih Pengelolaan

Dari sinilah akar istilah “Tabuik” berasal, yang kemudian menjadi bagian dari tradisi yang berkembang jauh dari Timur Tengah hingga Asia Selatan.

Masuknya Tradisi Tabuik ke Nusantara

Perjalanan tradisi ini ke Indonesia tidak terjadi secara langsung dari Timur Tengah, melainkan melalui jalur perdagangan dan kolonialisme.

Pada abad ke-19, ketika Inggris menguasai sebagian wilayah Asia Selatan, banyak pekerja Muslim dari India Selatan dibawa ke wilayah kolonial, termasuk ke pesisir Sumatera Barat.

Para pekerja inilah yang membawa tradisi peringatan Asyura ke wilayah Pariaman. Namun, seperti banyak tradisi migran lainnya, praktik ini tidak bertahan dalam bentuk aslinya.

Di tanah Minangkabau, tradisi tersebut mengalami proses panjang adaptasi budaya, interaksi sosial, dan penyesuaian nilai lokal.

Proses Akulturasi di Tanah Minangkabau

Masyarakat Minangkabau memiliki sistem adat yang kuat dan terstruktur. Falsafah terkenal mereka, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, menjadi landasan utama dalam menerima dan menyesuaikan budaya luar.

Ketika tradisi Tabuik mulai dikenal di Pariaman, masyarakat tidak serta-merta menolaknya, tetapi juga tidak menerimanya secara mentah.

Sebaliknya, terjadi proses akulturasi budaya, di mana:

  • Unsur ritual keagamaan mulai dikurangi
  • Simbol-simbol diubah menjadi representasi budaya
  • Prosesi diadaptasi menjadi pertunjukan rakyat
  • Makna spiritual bergeser menjadi makna sosial dan historis

Proses ini berlangsung secara bertahap selama puluhan tahun.

Lahirnya Hoyak Tabuik sebagai Festival Rakyat

Istilah “Hoyak Tabuik” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “menggoyangkan Tabuik”.

Dalam perkembangannya, tradisi ini berubah menjadi sebuah festival besar yang melibatkan masyarakat luas. Tabuik tidak lagi hanya menjadi simbol duka, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya.

Setiap tahun, dua kelompok utama masyarakat biasanya membangun dua Tabuik besar yang kemudian diarak secara meriah menuju pantai.

Baca Juga  Tiang Telkom Hampir Tumbang Sebabkan Arus Lalin Macet

Festival ini menjadi puncak peringatan pada bulan Muharram, khususnya tanggal 10 Muharram.

Tahapan Tradisi Hoyak Tabuik

Hoyak Tabuik bukan sekadar arak-arakan satu hari. Tradisi ini memiliki rangkaian panjang yang berlangsung selama beberapa hari.

1. Maambiak Tanah (Mengambil Tanah)

Prosesi awal ini dilakukan sebagai simbol pengumpulan bahan untuk membangun Tabuik.

2. Manabang Batang Pisang

Tahap ini melibatkan pemotongan batang pisang yang digunakan sebagai bagian struktur simbolik.

3. Merakit Tabuik

Tabuik dibangun dari bambu, kayu, rotan, dan dihias dengan kain serta ornamen warna-warni.

4. Maarak Tabuik

Tabuik diarak keliling kota dengan diiringi musik tradisional gandang tasa.

5. Hoyak Tabuik

Pada puncaknya, Tabuik digoyangkan secara bersama-sama oleh masyarakat.

6. Tabuik Dibuang ke Laut

Sebagai penutup, Tabuik dibawa ke pantai dan dihanyutkan ke laut sebagai simbol pelepasan.

Kontroversi: Antara Akar Sejarah dan Interpretasi Agama

Salah satu aspek yang sering menjadi bahan diskusi adalah asal-usul Tabuik yang terkait dengan tradisi peringatan Asyura dalam sejarah Islam.

Sebagian kalangan menilai bahwa:

  • Tradisi ini memiliki akar dalam budaya Syiah
  • Unsur ritualnya tidak sesuai dengan praktik Islam Sunni yang dominan di Sumatera Barat
  • Perlu kehati-hatian dalam memaknai simbol-simbolnya

Namun di sisi lain, masyarakat Pariaman dan pemerintah daerah menegaskan bahwa:

  • Hoyak Tabuik saat ini adalah tradisi budaya, bukan ritual keagamaan
  • Makna religiusnya telah berubah menjadi makna historis dan sosial
  • Fokus utama adalah pelestarian budaya dan pariwisata

Perbedaan sudut pandang inilah yang menciptakan ruang diskusi yang terus berlangsung hingga saat ini.

Peran Pemerintah dalam Mentransformasi Makna

Seiring waktu, pemerintah daerah Sumatera Barat mengambil peran aktif dalam mengelola tradisi ini sebagai festival budaya.

Hoyak Tabuik kemudian diposisikan sebagai:

  • Agenda wisata tahunan
  • Warisan budaya tak benda
  • Daya tarik pariwisata internasional
Baca Juga  Polisi Cek SPBU di Dharmasraya Usai Viral Dugaan Solar Subsidi Ilegal

Dengan pendekatan ini, aspek kontroversialnya dikelola melalui penekanan pada nilai budaya, bukan ritual keagamaan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Selain nilai budaya, Hoyak Tabuik juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Pariaman.

Setiap tahun, festival ini:

  • Menarik ribuan wisatawan lokal dan mancanegara
  • Meningkatkan pendapatan pelaku UMKM
  • Menghidupkan sektor transportasi dan penginapan
  • Meningkatkan citra Pariaman sebagai kota wisata budaya

Bagi masyarakat lokal, Tabuik bukan hanya tradisi, tetapi juga sumber penghidupan.

Transformasi Identitas Budaya

Salah satu hal paling menarik dari Hoyak Tabuik adalah kemampuannya bertahan dan berubah.

Dari sebuah tradisi yang berakar pada sejarah keagamaan Timur Tengah, ia berkembang menjadi:

  • Identitas budaya lokal
  • Festival rakyat
  • Simbol kebersamaan masyarakat
  • Warisan sejarah yang terus hidup

Transformasi ini menunjukkan bahwa budaya bersifat dinamis dan selalu beradaptasi dengan konteks sosial.

Perspektif Antropologi Budaya

Dalam kajian antropologi, Hoyak Tabuik adalah contoh nyata sinkretisme budaya, yaitu percampuran antara unsur budaya asing dan lokal.

Proses ini umum terjadi di banyak masyarakat dunia, terutama di wilayah yang menjadi jalur perdagangan dan kolonialisme.

Pariaman menjadi contoh bagaimana budaya luar tidak selalu dihapus, tetapi diolah ulang menjadi bentuk baru yang sesuai dengan nilai lokal.

Kesimpulan: Tradisi, Sejarah, dan Identitas yang Terus Hidup

Hoyak Tabuik di Pariaman adalah lebih dari sekadar festival. Ia adalah representasi dari perjalanan panjang sejarah, akulturasi budaya, dan dinamika sosial masyarakat Minangkabau.

Kontroversi yang menyertainya bukanlah tanda perpecahan, tetapi cerminan dari kompleksitas sejarah dan perbedaan interpretasi.

Pada akhirnya, Hoyak Tabuik telah berubah menjadi simbol identitas budaya yang kuat, yang tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi juga terus berkembang di masa kini dan masa depan. (*)