Seni & BudayaBerita

LPK FIB Unand Buka FBBN II 2026, Angkat Bahasa dan Sastra untuk Merespons Krisis Ekologi

×

LPK FIB Unand Buka FBBN II 2026, Angkat Bahasa dan Sastra untuk Merespons Krisis Ekologi

Sebarkan artikel ini
IMG 20261007 WA0000

ZONAPUBLIS- Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (LPK FIB Unand) resmi membuka Festival Bulan Bahasa Nasional (FBBN) II 2026.

Mengangkat tema “Bahasa dalam Ingatan: Membaca Isyarat Alam, Merespons Krisis Ekologi”, kegiatan ini mengajak mahasiswa dan pelajar meningkatkan kepekaan terhadap persoalan lingkungan melalui bahasa dan sastra.

Pembukaan FBBN II 2026 ditandai dengan kuliah umum yang digelar di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Aslinda, M.Hum., Leni Syafyahya, S.S., M.Hum., dan Dr. Ronidin, S.S., M.A.

Ketua pelaksana FBBN II 2026, Nikicha, mengatakan tema yang diangkat menjadi upaya untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, lebih peka terhadap berbagai isyarat alam dan krisis ekologi yang terjadi di Indonesia.

Ia mengibaratkan manusia yang mengalami bencana akan mengingat berbagai isyarat alam yang dirasakan sebelum maupun saat bencana terjadi. Ingatan dan pengalaman tersebut kemudian dapat melahirkan respons terhadap persoalan lingkungan.

Menurutnya, respons tersebut juga dapat diwujudkan melalui karya-karya kreatif yang mengangkat keresahan terhadap krisis ekologi. Hal itu sekaligus menjadi dasar tema dalam berbagai cabang perlombaan FBBN II 2026.

Baca Juga  Operasi SAR Warga Hilang di Hutan Unand Dihentikan Setelah 2 Hari Pencarian Maksimal

Pembukaan kegiatan diawali oleh Nada Kurnia dan Adeka Gusnanda, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari ketua pelaksana, ketua umum, serta pembina LPK.

Wakil Dekan II FIB Unand, Alex Dermawan, turut memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi rangkaian FBBN II 2026.

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan kuliah umum yang membahas keterkaitan bahasa, sastra dan krisis ekologi.

Dalam pemaparannya, ketiga narasumber menekankan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Leni Syafyahya melalui materi “Bahasa dalam Ingatan: Membaca Isyarat Alam ‘Mengabek Padi jo Daunnyo’” menjelaskan bahwa berbagai ungkapan tradisional dapat merekam cara manusia memahami hubungan dengan alam.

“Bahasa membantu manusia menyimpan apa yang dilihat, dialami dan diwariskan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Ronidin melalui materi “Fenomena Berbahasa: Dari Krisis Berpikir ke Krisis Ekologi” menyoroti hubungan antara cara berpikir manusia dengan sikap dalam memperlakukan lingkungan.

Menurutnya, krisis ekologi berakar dari krisis berpikir manusia. Kerusakan alam, kata dia, tidak akan terjadi apabila manusia mampu membangun hubungan yang bersahabat dengan alam.

Baca Juga  UNAND Gelar Kuliah Umum Bersama Kepala BPOM RI, Bahas Ketahanan Bahan Baku Obat Nasional

Berbeda dengan itu, Dr. Aslinda membahas mengenai kata sapaan dalam masyarakat Minangkabau yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurutnya, proses pewarisan tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang hadir dalam bentuk bahasa verbal maupun nonverbal. Hal itu juga menunjukkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.

Salah seorang peserta, Ashifa Desfania, menilai materi yang disampaikan ketiga narasumber memberikan wawasan baru mengenai hubungan bahasa, sastra dan lingkungan.

“Bahasa, sastra dan lingkungan sangat terikat erat dan saling membutuhkan. Bahasa sebagai media mendeskripsikan lingkungan dan sastra sebagai media kreatif yang menyuarakan kondisi dan keadaan lingkungan,” ujarnya.

Ia mengatakan, kuliah umum tersebut juga mengubah cara pandangnya dalam menggunakan bahasa dan memproses kata.

“Yang berubah setelah ikut kuliah umum ini adalah cara berpikir dan perspektif cara memproses kata agar bisa diterima dan tidak berakar menjadi krisis ekologis,” lanjutnya.

Ketua Umum LPK FIB Unand, Nada Aprila Kurnia, mengatakan FBBN II 2026 tidak sekadar menjadi kegiatan tahunan, tetapi diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi mahasiswa dan pelajar.

Baca Juga  Damkar Padang Evakuasi Sapi yang Terperosok ke Dalam Sumur di Koto Tangah

“Kami ingin peserta paham secara akademik bahwa krisis ekologi memiliki keterkaitan erat dengan bahasa. Setelahnya, FBBN akan melakukan pengabdian ke masyarakat untuk memperkenalkan literasi kebahasaan dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Selain kuliah umum, FBBN II 2026 juga membuka sejumlah perlombaan yang dapat diikuti siswa SMA/MA/SMK/sederajat di Sumatera Barat serta mahasiswa aktif dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Pendaftaran dan pengumpulan karya untuk kategori cipta puisi, cipta cerpen dan cipta esai populer berlangsung pada 2–31 Oktober 2026. Selanjutnya, proses penjurian dilaksanakan pada 1–12 November 2026.

Sementara itu, pelaksanaan lomba secara luring sekaligus puncak FBBN II 2026 dijadwalkan pada 13 November 2026.

Melalui FBBN II 2026, LPK FIB Unand berharap bahasa dan sastra tidak hanya menjadi ruang untuk memperingati perkembangan bahasa, tetapi juga dapat berperan sebagai arsip ekologis yang merekam sekaligus menyuarakan berbagai persoalan lingkungan.

Dengan demikian, karya-karya yang lahir dari festival tersebut diharapkan menjadi cerminan kepekaan generasi muda terhadap krisis ekologi serta mendorong kesadaran untuk menjaga lingkungan.