ZONAPUBLIS- Universitas Andalas (UNAND) menggelar kuliah umum bersama Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Jumat (6/2/2026).
Kegiatan ini berlangsung di Convention Hall Kampus UNAND, Limau Manis, Kota Padang, mulai pukul 09.00 WIB.
Kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya UNAND dalam memperkuat pemahaman sivitas akademika dan masyarakat terhadap peran strategis BPOM dalam pengawasan obat dan makanan, sekaligus membahas tantangan kemandirian farmasi nasional.
Dalam pemaparannya, Prof. Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 15.267 jenis obat yang beredar di Indonesia, namun 94 persen bahan bakunya masih bergantung pada impor. Negara pemasok terbesar bahan baku obat tersebut berasal dari India, disusul Cina, Belanda, Jerman, dan Swiss.
“Kebutuhan bahan baku obat merupakan bagian dari ketahanan nasional. Kalau makanan, masih ada penggantinya. Tapi kalau obat, tidak bisa digantikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, BPOM berharap ketergantungan terhadap impor bahan baku obat dapat dikurangi secara bertahap melalui penguatan riset dan industri dalam negeri.
Lebih lanjut, Taruna menjelaskan bahwa antibiotik secara umum terbagi menjadi dua jenis, yakni antibiotik berbasis kimia sintetis dan antibiotik yang berasal dari bahan alam. Menariknya, potensi bahan alam Indonesia sangat besar untuk dikembangkan.
Ia mengutip publikasi ilmiah dalam Jurnal Nature edisi November 2022 yang mengungkap fakta bahwa sekitar 31 ribu tahun lalu di Nusantara, tepatnya di wilayah Kalimantan Timur, telah dilakukan tindakan operasi amputasi untuk menghilangkan penyakit. Pasien tersebut diketahui mampu bertahan hidup hingga sembilan tahun setelah operasi.
“Ini menunjukkan bahwa pada masa itu sudah digunakan antibiotik herbal untuk mencegah infeksi. Artinya, Indonesia punya sejarah dan potensi besar dalam pengembangan antibiotik berbasis bahan alam,” jelasnya.
Menurut Ikrar, temuan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk melakukan hilirisasi dan sintesis antibiotik berbasis bahan alam. BPOM pun mendorong adanya kerja sama antara universitas dan industri farmasi nasional.
“Kami berharap ke depan ada kolaborasi yang kuat dengan perguruan tinggi, khususnya fakultas farmasi, untuk melakukan riset bersama industri farmasi,” katanya.














