Ensiklopedia

Membuat Pupuk Organik Cair, Solusi Kelangkaan Pupuk Pertanian di Masyarakat

×

Membuat Pupuk Organik Cair, Solusi Kelangkaan Pupuk Pertanian di Masyarakat

Sebarkan artikel ini
IMG 20260824 WA0003

ZONAPUBLIS- Universitas Tamansiswa (UNITAS) Padang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tahun 2026 melaksanakan pelatihan pembuatan pupuk organik cair bagi masyarakat di Jorong Sampan Tanah, Nagari Baru Bajanjang, Kabupaten Solok.

Kegiatan dari tanggal 6 Agustus sampai 20 Agustus 2026 tersebut mengusung skema “Integrasi Inovasi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, Mewujudkan Pembangunan Berdampak Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.” Program ini dilaksanakan oleh berbagai program studi di UNITAS Padang dan tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Kegiatan di Jorong Sampan Tanah diketuai Walfajri Gumanti dan didampingi dua dosen pembimbing lapangan, yakni Dr. Ir. Syafizal, MP dan Marissa Jemmy, SH., MH.

Tim pelaksana terdiri dari Walfajri Gumanti selaku ketua, Fadil Sofwan, Revalina Fitri selaku sekretaris, Rafiva Zahara sebagai bendahara, serta anggota Diva Yulanda Putri, Suci Ramadani, Muhammad Fadhil, Yandi Wiryo Masrial, Deva Fernando, Ferdiansyah Muhammad Noor, Joni Sartika, dan Ari Fadilah Aljumar, Sesti Junita serta seluruh anggota kelompok.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari perguruan tinggi lainnya serta perangkat Nagari Baru Bajanjang.

Baca Juga  Kejati Sumbar Bantah Jemput Paksa Mahasiswa UIN, Sebut Hanya Undangan Diskusi

Sebelum pelatihan dilaksanakan, tim melakukan diskusi intensif dan observasi langsung kepada masyarakat, khususnya kelompok petani, untuk mengetahui persoalan yang dihadapi di lapangan.

Dari hasil observasi tersebut, salah satu persoalan yang ditemukan adalah sulitnya petani memperoleh pupuk untuk kebutuhan pertanian. Kalaupun tersedia, harga pupuk dinilai cukup mahal sehingga dapat meningkatkan biaya produksi petani.

Kondisi tersebut mendorong tim KKN UNITAS Padang menawarkan alternatif melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Pelatihan dilakukan secara berkala sejak tim tiba di lokasi. Setelah praktik pembuatan pupuk, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi dan pemantauan terhadap proses fermentasi.

Pupuk organik cair yang diperkenalkan kepada masyarakat memanfaatkan sampah organik sisa pertanian maupun sampah organik rumah tangga. Bahan pendukung yang digunakan antara lain air, gula, dan larutan eco enzyme.

Adapun tahapan pembuatannya meliputi:

1. Sampah organik dihaluskan atau dipotong menjadi ukuran kecil.
2. Sampah organik yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam reaktor, kemudian ditambahkan air dan cairan eco enzyme.
3. Komposisi bahan yang digunakan menggunakan perbandingan 1:3:10, yakni 1 liter cairan gula merah, 3 liter sampah organik yang telah dihaluskan, dan 10 liter air bersih.
4. Seluruh bahan dicampur dan diaduk hingga merata, kemudian dimasukkan ke dalam wadah untuk proses fermentasi dan ditanam di dalam tanah selama 30 hari.
5. Proses fermentasi diperiksa secara berkala setiap tiga hari.
6. Setelah proses fermentasi berlangsung selama 30 hari, pupuk organik cair siap dipanen.

Baca Juga  Lapas Perempuan Padang Musnahkan Barang Hasil Razia Kamar Warga Binaan

Salah satu indikator yang diperhatikan dalam proses fermentasi adalah kondisi dan aroma pupuk. Pada sekitar hari ke-25, pupuk organik diharapkan tidak lagi mengeluarkan bau busuk.

Apabila pupuk mengeluarkan bau busuk, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa proses fermentasi tidak berlangsung dengan baik. Beberapa penyebabnya antara lain kekurangan oksigen, kondisi bahan terlalu basah, atau komposisi bahan basah yang terlalu banyak tanpa diimbangi bahan kaya karbon.

Kondisi tersebut dapat memicu aktivitas mikroorganisme pembusuk sehingga kualitas hasil fermentasi menjadi kurang baik.

Baca Juga  Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Seminar Proposal dan Cara Menghindarinya

Wali Jorong Sampan Tanah, Nagari Baru Bajanjang, Kabupaten Solok, Edi Hendri, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan UNITAS Padang.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada kelompok tani dan masyarakat mengenai pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pertanian.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga petani memiliki alternatif dalam memenuhi kebutuhan pupuk dan tidak sepenuhnya bergantung pada pupuk kimia yang tersedia di pasaran.

“Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat, khususnya kelompok tani, mendapatkan pengetahuan untuk mengolah sampah organik sisa pertanian maupun sampah rumah tangga menjadi pupuk organik cair,” ujarnya.

Selain membantu menyediakan alternatif pupuk, kegiatan ini juga memberikan manfaat dalam pengelolaan sampah organik. Limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, UNITAS Padang berharap inovasi sederhana berbasis potensi lokal dapat terus dikembangkan dan diterapkan masyarakat secara mandiri, sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan di daerah.