ZONAPUBLIS.ID – Timnas Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah setelah melewati pertandingan pertama FIFA ASEAN Cup 2026. Meski berhasil mengalahkan Singapura dengan skor 2-0, permainan skuad Garuda mendapat sejumlah sorotan, terutama dalam hal efektivitas serangan.
Pengamat sepak bola nasional Titis Widyatmoko menilai ada beberapa aspek yang perlu dibenahi Indonesia sebelum menghadapi Malaysia pada pertandingan kedua Grup A.
Indonesia mengalahkan Singapura 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (25/9/2026). Dalam pertandingan tersebut, Indonesia lebih dominan dalam penguasaan bola.
Mengacu pada data pertandingan yang dikutip dari Flashscore, Indonesia mencatat penguasaan bola sebesar 57 persen, sedangkan Singapura 43 persen.
Namun, dominasi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan efektivitas penyelesaian peluang. Indonesia tercatat melepaskan 11 percobaan sepanjang pertandingan.
Titis menilai persoalan finishing menjadi salah satu aspek paling mencolok dari penampilan Indonesia.
“Kelemahan yang tampak dalam pertandingan melawan Singapura, pertandingan pertama, itu adalah finishing touch yang lemah,” ujar Titis Widyatmoko kepada KOMPAS.com melalui rekaman suara WhatsApp, Sabtu (26/9/2026).
Ia menilai banyak percobaan Indonesia belum mampu diarahkan secara efektif ke sasaran.
“Kita lihat dari 11 percobaan ke gawang lawan, delapan tidak mencapai sasaran. Hanya tiga yang mencapai sasaran.”
“Jadi di situ terlihat bahwa penyelesaian akhir itu adalah sebuah persoalan,” sambungnya.
Bola Mati Belum Memberikan Ancaman Maksimal
Selain penyelesaian akhir, Titis melihat situasi bola mati juga belum dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia.
Skuad Garuda memperoleh banyak kesempatan melalui sepak pojok. Namun, peluang dari situasi tersebut belum banyak menghasilkan ancaman serius ke pertahanan Singapura.
“Kemampuan mengoptimalkan bola-bola mati. Memang satu goal datang dari tendangan bebas, tapi kalau kita melihat ada 11 tendangan sudut, itu tidak ada atau jarang sekali dari 11 tendangan sudut itu yang berbuah peluang atau goal,” jelas Titis.
Menurutnya, jumlah sepak pojok yang diperoleh seharusnya dapat menjadi salah satu sumber peluang bagi Indonesia. Terlebih, skuad Garuda memiliki beberapa pemain dengan postur yang bisa dimanfaatkan dalam duel udara.
Titis menilai keunggulan fisik tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi keuntungan ketika Indonesia mendapatkan bola mati.
“Meskipun sebenarnya para pemain Indonesia memiliki competitive advantage dari sisi postur.”
“Ada Mitchell Baker dan juga ada satu lagi pemain belakang yang tinggi posturnya itu, Elkan Baggott, yang posturnya jelas lebih tinggi dari beberapa pemain atau mayoritas main bertahan Singapura. Nah, ini tidak bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Umpan Silang Masih Kurang Efektif
Persoalan lain yang menjadi perhatian Titis adalah kualitas crossing dari sisi sayap.
Indonesia memiliki pemain depan dengan postur tinggi yang secara teori dapat menjadi sasaran umpan silang. Akan tetapi, sejumlah crossing yang dilepaskan belum mampu menghasilkan peluang matang.
“Satu lagi adalah kualitas umpan silang atau crossing yang buruk. Beberapa kali karena memiliki satu striker yang posturnya tinggi, pemain-pemain sayapnya itu cenderung untuk mengirim bola-bola silang atau umpan silang dengan harapan memang akan bisa diselesaikan menjadi gol,” kata Titis.
Masalahnya, umpan silang tersebut relatif mudah dibaca dan diamankan barisan pertahanan Singapura.
“Tetapi kualitas crossingnya kalau kita lihat, hampir semuanya bisa dimanfaatkan oleh barisan belakang Singapura atau berhasil dikuasai oleh penjaga gawan,” tambahnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya membutuhkan lebih banyak crossing, tetapi juga akurasi serta pengambilan keputusan yang lebih baik ketika mengirim bola ke kotak penalti.
Koordinasi di Sepertiga Akhir Perlu Diperbaiki
Titis juga menyoroti permainan Indonesia ketika sudah memasuki area sepertiga akhir lapangan.
Menurutnya, masih terlihat sejumlah kesalahan umpan dan pergerakan pemain yang belum sepenuhnya terkoordinasi. Situasi tersebut membuat serangan Indonesia terkadang kehilangan momentum ketika sudah mendekati pertahanan lawan.
“Berikutnya adalah situasi atau pemahaman situasi di sepertiga lapangan akhir atau final third.”
Ia melihat masih ada momen ketika pemain Indonesia belum mampu membaca pergerakan rekan setimnya secara tepat.
“Di situ seringkali tampak kita dengan kasat mata adalah salah umpan, pergerakan yang belum bisa membaca apa yang dimaui oleh kawan,” tandasnya.
Harus Dibenahi Sebelum Bertemu Malaysia
Sejumlah catatan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia menjelang pertandingan berikutnya. Lawan yang dihadapi juga bukan tim yang bisa dianggap ringan karena Malaysia menjadi salah satu pesaing Indonesia di Grup A.
Titis meminta aspek-aspek yang terlihat pada pertandingan melawan Singapura tersebut segera dievaluasi sebelum laga berikutnya.
“Ini adalah hal-hal yang memang perlu diperbaiki menjelang lawan Malaysia. Karena Malaysia ini juga tidak bisa dipandang remeh,” tuturnya.
Indonesia memang sudah mengantongi tiga poin dari kemenangan atas Singapura. Namun, bagi Titis, hasil tersebut tidak berarti seluruh persoalan permainan sudah selesai.
Efektivitas penyelesaian akhir, pemanfaatan bola mati, kualitas crossing, serta koordinasi di area final third menjadi beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian sebelum Indonesia kembali turun ke lapangan menghadapi Malaysia. (*)














