Lifestyle

Anak Sering Minta Makan Tengah Malam Sebelum Tidur? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

×

Anak Sering Minta Makan Tengah Malam Sebelum Tidur? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini
IMG 3748
Source: halodoc.com

ZONAPUBLIS – Bagi sebagian orang tua, rutinitas sebelum tidur sering kali diwarnai dengan drama kecil: si kecil tiba-tiba mengeluh lapar dan meminta camilan tepat saat lampu kamar baru saja dimatikan.

Fenomena anak sering minta makan tengah malam atau sesaat sebelum tidur ini ternyata merupakan hal yang lumrah, namun kerap membuat orang tua khawatir akan dampaknya terhadap kualitas tidur dan kesehatan gigi anak.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Berdasarkan data medis dan penjelasan para pakar tumbuh kembang anak, berikut adalah beberapa penyebab utama di balik kebiasaan tersebut:

1. Lonjakan Pertumbuhan (Growth Spurts)

Penyebab paling umum dari rasa lapar yang tiba-tiba di malam hari adalah fase growth spurts atau lonjakan pertumbuhan.

  • Menurut data dari American Academy of Pediatrics (AAP), anak-anak mengalami periode pertumbuhan pesat di mana tubuh mereka membutuhkan kalori ekstra untuk membangun tulang, otot, dan jaringan baru
  • Selama fase ini, hormon pertumbuhan diproduksi lebih aktif, terutama saat mereka tidur, sehingga sinyal lapar dikirimkan oleh otak bahkan menjelang waktu istirahat
Baca Juga  Bukan Sekadar Tenis "KW", Padel Jadi Tren Olahraga Baru yang Digandrungi Anak Muda

2. Porsi Makan Siang atau Malam yang Kurang Optimal

Anak-anak sering kali terlalu aktif atau mudah terdistraksi saat jam makan utama.

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sering mengingatkan bahwa feeding rules (aturan makan) yang tidak konsisten bisa memicu hal ini. Jika anak menolak makan malam karena asyik bermain atau terlalu lelah, cadangan energi mereka akan habis di tengah malam, memicu rasa lapar saat tubuh mulai rileks

3. Kebiasaan atau Faktor Emosional (Emotional Eating)

Tidak semua rasa lapar di malam hari berasal dari perut yang kosong. Kadang kala, ini adalah bentuk coping mechanismatau strategi menunda waktu tidur (bedtime resistance).

  • Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa anak-anak sering kali menggunakan alasan “lapar” atau “haus” sebagai trik psikologis untuk memperpanjang waktu bersama orang tua dan menunda jam tidur
  • Selain itu, rasa cemas atau takut akan kegelapan dan perpisahan sesaat dengan orang tua di malam hari juga bisa termanifestasi sebagai keinginan untuk mengunyah sesuatu yang memberikan rasa nyaman (comfort food)
Baca Juga  Keunikan Bonsai si Pohon Kerdil

4. Makan Malam Terlalu Cepat

Jarak waktu antara makan malam dan jam tidur yang terlalu jauh (lebih dari 4 jam) secara alami akan membuat kadar gula darah anak menurun. Tubuh anak-anak membakar energi lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga jeda yang terlalu lama pasti akan memicu alarm lapar sebelum mereka sempat terlelap.

Catatan Pakar Kesehatan: Memberikan makanan berat atau tinggi gula (seperti susu kental manis, biskuit cokelat, atau sereal manis) menjelang tidur sangat tidak disarankan. Selain meningkatkan risiko gigi berlubang (karies), makanan tinggi gula dapat memicu lonjakan energi (sugar rush) yang justru membuat anak semakin sulit tidur.

Baca Juga  Mengenal MPAL, Leukemia Langka pada Anak: Belajar dari Perjuangan Kalandra dan Pentingnya Mengenali Gejala Sejak Dini

Solusi Bijak untuk Orang Tua

Untuk mengatasi kebiasaan ini tanpa membuat anak kelaparan, para ahli gizi anak menyarankan beberapa langkah konkret:

  • Evaluasi Jadwal Makan: Pastikan makan malam disajikan sekitar 2 hingga 3 jam sebelum waktu tidur
  • Sediakan Camilan Sehat yang Mengenyangkan: Jika anak benar-benar lapar, berikan camilan rendah gula namun kaya protein dan serat yang membantu tidur lebih nyenyak (mengandung zat triptofan)
  • Terapkan Rutinitas Tidur yang Konsisten: Lakukan ritual sebelum tidur (bedtime routine) seperti membaca buku, menyikat gigi, dan meredupkan lampu untuk meminimalkan kecemasan anak

Dengan memahami akar masalahnya—apakah karena kebutuhan biologis atau sekadar kebiasaan—orang tua dapat merespons dengan lebih tenang dan bijak, memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal tanpa mengorbankan kualitas tidur mereka.