Kesehatan

Mengenal MPAL, Leukemia Langka pada Anak: Belajar dari Perjuangan Kalandra dan Pentingnya Mengenali Gejala Sejak Dini

×

Mengenal MPAL, Leukemia Langka pada Anak: Belajar dari Perjuangan Kalandra dan Pentingnya Mengenali Gejala Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi leukemia 1 1
Ilustrasi

ZONAPUBLIS – Kisah Kalandra Muhammad Azis, bocah 4 tahun 8 bulan asal Bukittinggi, menjadi pengingat bahwa penyakit serius pada anak terkadang membutuhkan perjalanan pengobatan yang panjang.

Kalandra diketahui menderita Mixed Phenotype Acute Leukemia (MPAL), salah satu jenis leukemia akut yang tergolong langka. Saat ini ia masih menjalani perawatan dan membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Kisah Kalandra bukan untuk menimbulkan ketakutan bagi orang tua. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan pengetahuan mengenai leukemia anak, terutama tanda-tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.

Sebab, semakin cepat keluhan yang tidak biasa diperiksakan, semakin cepat pula dokter dapat mencari tahu penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

Apa Itu MPAL?

MPAL merupakan singkatan dari Mixed Phenotype Acute Leukemia. Ini adalah jenis leukemia akut yang memiliki karakteristik dari lebih dari satu garis keturunan sel darah.

Secara sederhana, sel leukemia pada MPAL dapat menunjukkan karakteristik yang berkaitan dengan leukemia limfoid maupun mieloid. Karena karakteristiknya kompleks, dokter membutuhkan pemeriksaan khusus untuk memastikan diagnosis.

MPAL termasuk penyakit yang jarang. Karena itu, penanganannya juga membutuhkan evaluasi medis yang cermat.

Ini menjadi salah satu pengingat bahwa leukemia pada anak tidak selalu mudah dikenali hanya dari penampilan luar.

Baca Juga  4 Negara yang Terdampak Virus Nipah, Apakah Indonesia Termasuk?

Beberapa gejalanya pada awalnya dapat terlihat seperti keluhan yang umum dialami anak.

Mengapa Orang Tua Perlu Mengenali Tandanya?

Anak sesekali mengalami demam, lelah, tidak nafsu makan, atau terlihat pucat. Kondisi seperti itu tentu tidak otomatis berarti leukemia.

Namun, perhatian orang tua diperlukan apabila keluhan tersebut terjadi berulang, berlangsung lama, muncul bersamaan dengan gejala lain, atau kondisinya semakin memburuk.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. anak terlihat pucat dan lemah secara terus-menerus;
  2. mudah mengalami memar tanpa penyebab yang jelas;
  3. sering mengalami mimisan atau perdarahan;
  4. demam berulang;
  5. infeksi berulang;
  6. nyeri tulang atau persendian;
  7. pembengkakan kelenjar getah bening;
  8. nafsu makan menurun;
  9. berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
  10. anak lebih mudah lelah dibanding biasanya.

Sekali lagi, gejala tersebut bukan berarti anak pasti mengalami leukemia. Banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan keluhan serupa.

Yang penting adalah jangan mengabaikan perubahan kondisi anak yang terus berulang.

Jangan Menunggu Sampai Kondisi Berat

Perjalanan pengobatan yang harus dijalani Kalandra menunjukkan bahwa penyakit serius dapat membuat anak membutuhkan perawatan dalam waktu panjang.

Namun, kisah tersebut tidak boleh dimaknai bahwa orang tua harus mencurigai leukemia setiap kali anak demam atau pucat.

Baca Juga  Waspada! Ini Gejala Diabetes yang Sering Diabaikan dan Jarang Disadari

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan memperhatikan pola kesehatan anak.

Misalnya, jika anak biasanya aktif tetapi tiba-tiba menjadi sangat mudah lelah dalam waktu lama, sering mengalami demam tanpa penyebab yang jelas, atau berkali-kali mengalami memar dan perdarahan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Dokter kemudian dapat menentukan apakah anak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Apakah MPAL Bisa Dicegah?

Di sinilah pentingnya membedakan antara pencegahan penyakit dan deteksi dini.

Sampai saat ini, tidak ada cara khusus yang terbukti dapat mencegah sebagian besar kasus leukemia anak, termasuk MPAL. Penyebab sebagian besar leukemia pada anak juga belum diketahui secara pasti.

Karena itu, orang tua tidak seharusnya merasa bersalah jika anak didiagnosis leukemia.

Yang dapat dilakukan adalah menjaga kesehatan anak secara umum, menghindari paparan yang diketahui berisiko bila memungkinkan, serta tidak mengabaikan gejala yang menetap atau tidak biasa.

Dengan kata lain, untuk MPAL, yang lebih realistis dilakukan orang tua bukan mencari cara agar penyakit pasti tidak terjadi, tetapi mengenali tanda-tanda yang mencurigakan dan segera mencari pertolongan medis.

Menjadi Pengingat, Bukan Alasan untuk Panik

Kisah Kalandra sebaiknya menjadi pengingat bagi keluarga lain bahwa pengetahuan mengenai kesehatan anak sangat penting.

Baca Juga  Cara Mengatasi Asam Lambung Naik, Kenali Penyebab dan Solusinya

Orang tua tidak perlu panik ketika anak mengalami satu gejala. Namun, orang tua juga tidak sebaiknya menganggap semua perubahan kondisi sebagai hal biasa, terutama jika berlangsung terus-menerus.

Kenali anak sendiri. Perhatikan perubahan yang berbeda dari kebiasaannya. Dan ketika ada sesuatu yang terasa tidak wajar, konsultasikan kepada tenaga medis.

Deteksi lebih awal tidak selalu berarti penyakit dapat dicegah, tetapi pemeriksaan lebih cepat dapat membantu menemukan penyebab keluhan dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

Dalam kasus leukemia, keputusan diagnosis dan pengobatan tetap sepenuhnya berada di tangan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Pesan Penting untuk Orang Tua

Kisah Kalandra bukan untuk membuat orang tua takut terhadap leukemia.

Sebaliknya, kisah tersebut dapat menjadi pengingat sederhana:

Anak yang sering sakit bukan berarti leukemia. Tetapi gejala yang terus berulang juga jangan diabaikan.

Jika terdapat pucat berkepanjangan, mudah memar, perdarahan yang tidak biasa, demam berulang, nyeri tulang, kelelahan ekstrem, penurunan berat badan, atau perubahan kondisi anak lainnya yang menetap, bawa anak untuk diperiksa dan jangan melakukan diagnosis sendiri. (**)