ZONAPUBLIS – Di era yang serba cepat ini, hustle culture atau budaya bekerja gila-gilaan seolah menjadi standar kesuksesan baru.
Demi label financial freedom, banyak orang rela mengorbankan waktu istirahat, kebersamaan keluarga, hingga ibadah.
Namun, bagaimana Islam memandang fenomena ini? Apakah kerja keras berbanding lurus dengan derasnya rezeki?
Dalam program Tanya Ustaz Mozaik Islam, Ustaz Fatih Karim (Pendiri Cinta Quran Foundation) memberikan bedah tuntas mengenai konsep rezeki yang sering disalahpahami.
Kerja Keras Bukan Penjamin Rezeki
Ustaz Fatih menegaskan sebuah fakta sederhana: jika kerja keras adalah satu-satunya penentu banyaknya rezeki, maka tukang batu seharusnya menjadi orang paling kaya. Namun, realitanya tidak selalu demikian.
“Rezeki itu sudah ditakar dan tidak akan tertukar. Tidak ada hubungan langsung antara kerja keras dengan derasnya rezeki, karena rezeki adalah hak prerogatif Allah,” jelasnya. Meski begitu, bukan berarti seorang muslim boleh bermalas-malasan.
Bagi para pria, ada motivasi besar dalam bekerja. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada dosa-dosa tertentu yang tidak bisa terhapus oleh shalat, puasa, bahkan haji.
Dosa tersebut hanya bisa luntur melalui tetesan keringat seorang ayah yang bekerja keras mencari nafkah halal untuk anak dan istrinya.
Jadi, bekerja keras itu mulia, namun Ustaz Fatih mengingatkan agar jangan sampai terjebak dalam “slow suicide” (bunuh diri perlahan) akibat melupakan kesehatan dan hak tubuh.
Dua Jenis Rezeki: Diantar dan Dijemput
Menurut Ustaz Fatih, rezeki datang melalui dua pintu:
-
Rezeki yang Diantar: Hadir tanpa disangka-sangka, seperti hadiah atau bantuan tiba-tiba dari orang lain.
-
Rezeki yang Dijemput: Datang melalui ikhtiar, perniagaan, dan profesionalisme kita dalam bekerja.
Tiga Kunci Menarik Keberkahan
Agar kerja keras tidak berujung sia-sia dan tetap bernilai ibadah, berikut adalah tiga saran utama:
-
Jangan Lepas Doa: Doa ibarat mengayuh sepeda; semakin rajin dikayuh, semakin cepat sampai ke tujuan.
-
Tingkatkan Tawakal: Serahkan hasil akhir kepada Allah agar hati tidak diliputi kegelisahan.
-
Ikhtiar Terbaik: Jadilah versi terbaik dalam profesi Anda—baik sebagai karyawan, pengusaha, maupun kepala keluarga.
Kesimpulan: Islam mengajarkan keseimbangan (tawazun). Kerja keras tanpa doa adalah kesombongan, sementara doa tanpa usaha adalah kemalasan. Menjadi muslim produktif bukan berarti bekerja tanpa henti, melainkan bekerja dengan niat yang benar untuk menjemput keberkahan, bukan sekadar angka di rekening.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, yang dia tidak duga-duga.” (QS. At-Talaq: 2). (*)







