ZONAPUBLIS- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi dalam periode pemantauan 7 Mei 2026 pukul 07.00 WIB hingga 8 Mei 2026 pukul 07.00 WIB.
Bencana yang mendominasi meliputi banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia.
Banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (7/5). Sebanyak 16 desa dan satu kelurahan di Kecamatan Karang Jaya dan Kecamatan Rupit terdampak akibat luapan air.
Wilayah terdampak di Kecamatan Karang Jaya meliputi Desa Lubuk Kumbung, Sukaraja, Muara Batang Empu, Rantau Telang, Tanjung Agung, Sukamenang, Muara Tiku, Terusan, Embacang dan Kelurahan Karang Jaya. Sementara di Kecamatan Rupit meliputi Desa Tanjung Beringin, Noman, Noman Baru, Batu Gajah, Batu Gajah Baru, Maur Lama dan Maur Baru.
Berdasarkan hasil kaji cepat sementara, banjir berdampak kepada sekitar 11.468 jiwa dari 2.867 kepala keluarga (KK). Sebanyak 2.867 unit rumah juga terdampak akibat genangan air.
“Hingga saat ini banjir belum surut dan kondisi air masih pasang di Kecamatan Karang Jaya. BPBD setempat juga melaporkan adanya potensi perluasan banjir ke wilayah Kecamatan Rupit, Karang Dapo dan Rawas Ilir,” tulis BNPB dalam laporan resminya.
Sementara itu, bencana tanah longsor terjadi di Desa Hutabarat, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Selasa (5/5). Peristiwa tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka.
Longsor juga mengakibatkan satu unit kendaraan roda empat mengalami rusak berat serta menyebabkan akses Jalan Nasional Tarutung-Sipirok putus total akibat tertutup material longsor.
Petugas gabungan bersama masyarakat telah melakukan evakuasi korban, sementara proses pembersihan material longsor masih terus berlangsung.
Di wilayah Kalimantan Utara, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, pada Kamis (7/5) sore. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
Upaya pemadaman masih terus dilakukan, namun petugas menghadapi kendala medan yang sulit dijangkau sehingga api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
BNPB juga mengingatkan adanya potensi bencana hidrometeorologi basah berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk dua hari ke depan.
Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan masih terjadi di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Kondisi tersebut dapat disertai kilat, petir dan angin kencang yang berpotensi memicu banjir, banjir bandang dan tanah longsor.
“Daerah dengan topografi curam dan wilayah bantaran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujar BNPB.
Selain itu, sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diperkirakan mengalami cuaca panas dan kering pada siang hari yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta langkah mitigasi bencana. Warga di daerah rawan banjir dan longsor diminta rutin memantau perkembangan cuaca, membersihkan drainase, serta segera melakukan evakuasi mandiri jika hujan deras berlangsung lebih dari satu jam disertai tanda-tanda pergerakan tanah.
Sementara untuk wilayah rawan karhutla, masyarakat diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
BNPB bersama BPBD dan unsur terkait terus melakukan pemantauan serta koordinasi penanganan darurat di wilayah terdampak guna memastikan keselamatan masyarakat dan percepatan penanganan bencana.














