Berita

Mengenal Prosedur ‘Drop, Cover, Hold On’ dalam Menghadapi Guncangan Gempa Bumi

×

Mengenal Prosedur ‘Drop, Cover, Hold On’ dalam Menghadapi Guncangan Gempa Bumi

Sebarkan artikel ini

Sejarah mencatat bahwa dampak fatalitas sering kali bukan disebabkan oleh guncangan itu sendiri, melainkan oleh ketidaksiapan manusia dalam merespons

IMG 20251228 WA0001

ZONAPUBLIS – Indonesia yang secara tektonik terletak di pertemuan tiga lempeng besar dunia, menjadikan gempa bumi sebagai realitas yang tidak bisa dihindari.

Namun, sejarah mencatat bahwa dampak fatalitas sering kali bukan disebabkan oleh guncangan itu sendiri, melainkan oleh ketidaksiapan manusia dalam merespons.

Pakar kebencanaan menegaskan bahwa detik-detik awal saat guncangan terjadi adalah waktu paling krusial yang menentukan keselamatan jiwa.

Berikut adalah rangkuman prosedur penyelamatan diri yang dihimpun dari protokol Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG.

Protokol 10 Detik Pertama: Drop, Cover, Hold On

Ketika lantai mulai bergoyang, insting pertama manusia biasanya adalah berlari keluar. Namun, para ahli justru menyarankan metode “Merunduk, Berlindung, dan Bertahan”.

Baca Juga  Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Bener Meriah Aceh Sore Ini

Banyak cedera terjadi karena orang mencoba berpindah tempat saat guncangan masih berlangsung. Tetap di tempat adalah pilihan paling aman kecuali bangunan dalam kondisi akan runtuh

Mitigasi di Berbagai Situasi

Ancaman gempa tidak mengenal waktu dan tempat. Respons yang tepat harus disesuaikan dengan posisi Anda saat kejadian:

1. Di Dalam Gedung Bertingkat

Jangan gunakan lift. Jika guncangan berhenti, gunakan tangga darurat dengan tenang

2. Di Luar Ruangan

Cari area terbuka yang jauh dari bangunan, tiang listrik, pohon, dan papan reklame

3. Di Pesisir Pantai

Jika gempa terasa kuat dan berlangsung lama (lebih dari 20 detik), segera lakukan evakuasi mandiri ke tempat tinggi tanpa menunggu bunyi sirine tsunami. Ingat rumus 20-20-20: Gempa 20 detik, punya waktu 20 menit untuk lari ke ketinggian 20 meter

Baca Juga  Ditlantas Polda Sumbar Terapkan One Way di Jalur Padang-Bukittinggi via Lembah Anai

Membangun Budaya “Tas Siaga Bencana”

Kesiapsiagaan tidak berhenti saat guncangan usai. Masa kritis berikutnya adalah 72 jam pertama pasca-bencana saat bantuan logistik mungkin belum sampai. Di sinilah pentingnya Tas Siaga Bencana (TSB).

Daftar Periksa Tas Siaga Bencana:

1. Dokumen Penting

Fotokopi identitas dalam wadah kedap air.

2. Pangan

Air minum minimal 2 liter/hari dan makanan tinggi kalori yang tahan lama

3. Kesehatan

Kotak P3K, obat pribadi, dan masker

4. Sinyal Darurat

Senter dan peluit (sangat vital jika terjebak di bawah reruntuhan)

Baca Juga  Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Barat Laut Tanimbar, Maluku: Tidak Berpotensi Tsunami

Langkah Preventif: Cek Struktur Rumah

Secara jangka panjang, masyarakat diimbau untuk mengevaluasi struktur bangunan mereka. Memastikan perabot berat seperti lemari terpaku ke dinding dan jalur keluar rumah tidak terhalang benda-benda besar adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan nyawa.

Pemerintah melalui BMKG terus mensosialisasikan aplikasi Info BMKG agar masyarakat mendapatkan informasi real-time mengenai magnitudo dan potensi tsunami secara akurat, sekaligus memutus rantai hoaks yang sering muncul pasca-gempa.

Kesiapsiagaan bukan tentang hidup dalam ketakutan, melainkan tentang menghargai hidup dengan persiapan yang matang.