SastraSeni & Budaya

Penafsiran Lokalitas dan Analogi dalam Naskah Drama Orang Orang Bawah Tanah karya Wisran Hadi

×

Penafsiran Lokalitas dan Analogi dalam Naskah Drama Orang Orang Bawah Tanah karya Wisran Hadi

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2025 12 18 at 11.06.53

Naskah drama merupakan salah satu karya sastra yang tersusun atas dialog dan sedikit narasi. Berbeda dengan bentuk karya sastra lainnya, dialog dalam naskah drama berperan sebagai medium utama  pengarang untuk menggerakan plot, karakter, konflik, serta menyampaikan gagasan.  Dialog dalam naskah drama pada umumnya bersifat tidak langsung. Artinya, makna yang disampaikan pengarang tidak selalu hadir secara eksplisit, melainkan tersembunyi di balik ujaran tokoh, situasi, serta konteks peristiwa yang dibangun dalam plot cerita. Oleh karena itu, untuk memahami makna, inti persoalan, dan pesan yang ingin disampaikan, pembaca dituntut untuk membaca secara cermat dan melakukan penafsiran yang mendalam.

Sifat tidak langsung tersebut sering kali diwujudkan melalui penggunaan kiasan, metafora, ataupun analogi. Dialog antar tokoh menjadi sarana untuk merepresentasikan gagasan pengarang seperti realitas sosial dan budaya tertentu. Dengan demikian, dialog dalam naskah drama tidak dapat dipahami secara harfiah semata, melainkan perlu ditafsirkan dengan memperhatikan konteks seperti latar sosial dan budaya. Berdasarkan hal inilah penafsiran lokalitas dan analogi menjadi penting untuk mengungkap makna yang tersembunyi di balik dialog, seperti dalam naskah drama Orang-Orang Bawah Tanah karya Wisran Hadi.

Menurut Mulyana, wacana tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya yang melahirkannya. Penafsiran terhadap wacana harus mempertimbangkan lingkungan, situasi, serta pengalaman kolektif masyarakat tempat wacana itu hadir (Mulyana, 2005). Pendekatan ini dikenal sebagai penafsiran lokal atau penafsiran lokalitas. Penafsiran lokalitas adalah cara memahami wacana dengan melihat konteks wilayah, adat, dan budaya yang melingkupinya. Konteks tersebut dapat berupa tempat, sistem sosial, tradisi, hingga media tempat wacana disampaikan.

Baca Juga  Makna dan Arti Lagu That Somebody by Rafi Sudirman, Ini Liriknya

Selain itu, Mulyana juga menekankan pentingnya prinsip analogi dalam analisis wacana. Analogi digunakan untuk memahami tuturan yang secara gramatikal singkat atau tidak lengkap, tetapi memiliki makna mendalam karena berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan bersama masyarakat (Mulyana, 2005). Dengan kata lain, analogi membantu pembaca menghubungkan bahasa dengan realitas sosial.

Penanda lokalitas Minangkabau dalam naskah drama Orang-Orang Bawah Tanah muncul secara konsisten melalui dialog, simbol, dan struktur sosial yang ditampilkan. Salah satu penanda awal terlihat dalam dialog:

“Selamat datang di Koto Tingga”.

Secara literal, dialog tersebut merujuk pada nama suatu tempat. Namun, pada lapisan makna yang lebih dalam, kata koto merupakan satuan wilayah adat Minangkabau yang setara dengan nagari atau desa adat. Penanda ini menunjukkan bahwa seluruh peristiwa dan konflik dalam naskah berlangsung dalam konteks budaya Minangkabau, lengkap dengan sistem kekerabatan dan adat yang khas.

Lokalitas juga ditegaskan melalui penyebutan marawa dan umbul-umbul. Secara literal, marawa adalah bendera berwarna merah, kuning, dan hitam. Namun secara kultural, marawa merupakan bendera simbol adat Minangkabau yang merepresentasikan tiga luhak utama yaitu Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Kota. Kehadiran marawa mengukuhkan latar budaya Minang serta menandai bahwa peristiwa yang terjadi berkaitan dengan upacara, identitas kaum, dan struktur sosial adat.

Baca Juga  Minangkabau Berduka, Maestro Budaya Yus Dt Parpatiah Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Penggunaan gelar adat untuk nama nama tokoh seperti Bundo Kanduang, Puti, dan Palimo, Gadih semakin memperkuat penafsiran lokalitas. Gelar-gelar tersebut merupakan bagian dari sistem adat Minangkabau. Bundo Kanduang melambangkan figur ibu adat dan kekuasaan perempuan dalam sistem matrilineal, Puti merupakan gelar perempuan bangsawan,  Palimo merujuk pada panglima atau penjaga adat sementara Gadih adalah bahasa minnagkabau untuk seorang gadis atau peremouan yang belum menikah.  Sistem gelar semacam ini menjadi penanda lokalitas adat dan budaya Minangkabau

Struktur sosial Minangkabau juga tercermin dalam dialog:

“kalau bukan kami ahli waris yang sah, tidak ungkin paman Siti mau menghabiskan uang untuk membangun kuburan ini”

dialog tersebut menyebutkan bahwa paman (mamak) berperan dalam penentuan ahli waris. Dalam sistem kekerabatan Minangkabau, mamak merupakan pemimpin kaum yang memiliki otoritas dalam urusan adat dan warisan. Dialog tersebut tidak dapat dipahami secara umum tanpa pengetahuan tentang sistem matrilineal Minangkabau, sehingga menunjukkan pentingnya penafsiran berbasis lokalitas (Mulyana, 2005).

Selain berfungsi sebagai penanda lokalitas, dialog-dialog dalam naskah drama Orang-Orang Bawah Tanah juga bekerja melalui prinsip analogi. Analogi memungkinkan dialog memiliki dua lapisan makna, yaitu makna literal dan makna simbolik.

Baca Juga  Film Laut Bercerita Siap Tayang di Bioskop 2026, First Look Dirilis di JAFF Market

seperti dalam dialog dibawah ini:

“Kuburan ini sumber hidup kita. Benteng ekonomi Koto Tingga”

secara literal menggambarkan kuburan sebagai objek pertunjukan atau sumber ekonomi. Namun, pada lapisan makna yang lebih dalam, kuburan tersebut menjadi sebuah analogi yaitu komersialisasi budaya. Adat dan simbol leluhur diperdagangkan demi kepentingan ekonomi. Analogi ini menunjukkan kritik Wisran Hadi terhadap praktik pariwisata budaya yang mengaburkan nilai sakral adat.

Analogi serupa muncul dalam dialog yang menyebut upacara adat sebagai “persembahan” dan “tontonan”. Upacara yang seharusnya bermakna ritual dianalogikan sebagai pertunjukan buatan. Hal ini menyiratkan kritik terhadap budaya yang direkayasa demi konsumsi wisatawan, bukan sebagai praktik adat yang hidup.

Penggunaan pakaian adat yang label tokonya masih menempel juga merupakan bentuk analogi. Secara literal, tokoh mengenakan pakaian adat baru. Namun secara simbolik, pakaian tersebut menjadi analogi yaitu identitas budaya yang dipakai, bukan dihayati. Analogi ini menguatkan kritik terhadap budaya yang hanya dijadikan atribut ekonomi oleh para pelaku budaya.

Melalui pendekatan penafsiran lokalitas dan prinsip analogi sebagaimana dikemukakan Mulyana (2005), naskah drama Orang-Orang Bawah Tanah dapat dipahami sebagai karya yang berakar kuat pada budaya Minangkabau. Lokalitas menghadirkan konteks budaya yang spesifik, sedangkan analogi membuka ruang kritik terhadap komersialisasi adat, manipulasi identitas, dan perebutan legitimasi melalui simbol budaya.