ZONAPUBLIS – Suasana Masjid Al Nurush Sabhirin Aspol Alai Padang tampak tidak seperti biasanya pada pagi itu.
Wakapolda Sumatera Barat, Brigjen Pol Solihin, hadir di tengah jamaah salat Subuh berjamaah bersama 52 personel Bintara Remaja Angkatan 52.
Kehadirannya bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi menyampaikan pembinaan yang sarat makna tentang waktu, tanggung jawab, dan kehormatan sebagai anggota Polri.
Usai salat Subuh, Brigjen Pol Solihin menyampaikan arahan dengan suasana khidmat. Ia mengingatkan bahwa waktu berjalan sangat cepat dan tidak bisa ditawar.
Menurutnya, setiap anggota Polri harus menyadari bahwa hidup dan masa dinas memiliki batas, sehingga setiap detik harus dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah dan institusi.
“Waktu itu cepat sekali. Tahu-tahu kita sudah pensiun, atau bahkan ajal lebih dulu menjemput. Karena itu, manfaatkan setiap detik dengan kesadaran penuh akan kewajiban kita kepada Allah dan kepada institusi,” ujar Wakapolda Sumbar.
Ia menegaskan bahwa salat Subuh bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi menjadi dasar pembentukan karakter.
Kesetiaan terhadap salat Subuh, menurutnya, mencerminkan kedisiplinan batin yang akan melahirkan integritas, kejujuran, dan kekuatan moral seorang anggota Polri.
Secara khusus, Brigjen Pol Solihin menaruh perhatian pada para Bintara Remaja yang akan segera memasuki dunia tugas.
Ia menilai masa awal pengabdian merupakan fase yang paling menentukan, sekaligus rawan. Kesalahan kecil yang tidak disadari, kata dia, dapat berkembang menjadi pelanggaran besar yang mencoreng nama institusi.
Dalam arahannya, Wakapolda Sumbar juga menyoroti kondisi era digital saat ini, di mana setiap tindakan anggota Polri mudah terekam dan tersebar luas.
Pengawasan publik semakin ketat, sehingga setiap perilaku menjadi sorotan masyarakat.
“Sekali saja berbuat tidak baik, nama Polri yang dipertaruhkan. Malu kita. Jangan pernah tergoda jalan instan. Jangan narkoba, jangan miras, jangan hedonisme. Jaga marwah kepolisian dan jangan rusak kepercayaan yang dibangun pimpinan dan senior kita,” tegasnya.
Arahan tersebut disampaikan sebagai pesan seorang senior kepada generasi penerus, dengan harapan para Bintara Remaja tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental dan spiritual yang kuat.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, menyampaikan bahwa kegiatan Gerakan Subuh Berjamaah merupakan bagian dari pembinaan karakter berkelanjutan di lingkungan Polda Sumbar.
Ia menegaskan bahwa nilai Tribrata dan Catur Prasetya harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar dihafal.
“Pesan Bapak Wakapolda sangat jelas. Integritas adalah harga mati. Kami ingin adik-adik Bintara Remaja tumbuh menjadi anggota Polri yang rendah hati, profesional, dan benar-benar hadir sebagai pelindung masyarakat,” ujar Kombes Pol Susmelawati.
Ia menambahkan, masjid menjadi ruang refleksi bagi seluruh personel untuk kembali menguatkan nurani dan jati diri Polri sebagai institusi yang dipercaya masyarakat.
Menutup arahannya, Wakapolda Sumbar mengajak seluruh personel untuk memakmurkan masjid dan menjalankan tugas kepolisian sebagai ladang ibadah.
Ia berharap setiap anggota mampu menjaga diri dari gaya hidup berlebihan yang berpotensi menjerumuskan pada pelanggaran hukum.
Pesan yang disampaikan di Masjid Al Nurush Sabhirin tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan Polri tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan strategi, tetapi juga oleh iman, nilai, dan integritas yang ditanamkan sejak waktu Subuh. (*)













