ZONA PUBLISH – Film seringkali menjadi media yang efektif untuk menghadirkan kembali memori sosial dan trauma kolektif suatu masyarakat, lewat Film Pengepungan di Bukit Duri, Joko Anwar menghadirkan potret distopia Indonesia yang berlatar tahun 2027. Distopia sendiri yaitu sebuah kondisi masyarakat dimana segala sesuatu bejalan buruk, tidak manusiawi, penuh ketakutan dan sering disertai penindasan. Meski dibungkus fiksi, konflik dan suasana dalam film garapan Joko Anwar ini terasa dekat dengan sejarah nyata yaitu kerusuhan yang terjadi tahun 1998, terutama kekerasan berbasis ras yang dialami etnis Tionghoa.
Di tengah latar kota Jakarta yang porak-poranda, cerita berfokus pada SMA Bukit Duri, sekolah buangan dengan reputasi buruk. Edwin (Morgan Oey), seorang guru keturunan Tionghoa, masuk ke sekolah itu bukan hanya untuk mengajar, tetapi mencari keponakannya yang hilang yaitu anak dari kakaknya, Silva (Lia Lukman), korban kekerasan seksual saat gelombang kebencian anti-Tionghoa meluap pada tahun 2009. Identitasnya menjadikannya sasaran kebencian para murid, terutama Jefri (Omara Esteghlal), siswa paling berandal yang menguasai sekolah. Pertentangan mereka makin memanas hingga berujung pada kekerasan brutal, sementara di luar sekolah, Jakarta kembali diguncang kerusuhan yang mengingatkan pada luka sosial masa lalu.
Jejak peristiwa 1998 itu bukan hanya soal kerusakan fisik atau kekacauan politik. Ia menorehkan trauma kolektif yang masih bergema hingga sekarang. Banyak keluarga menyimpan luka yang tak pernah tuntas, dan sebagian di antaranya diwariskan secara tak kasatmata kepada generasi berikutnya. Film ini menangkap denyut trauma itu lewat tokoh Jefri.
Jefri tumbuh tanpa identitas keluarga yang jelas. Yang ia tahu hanyalah bahwa ibunya adalah perempuan Tionghoa, korban kekerasan seksual di tengah kerusuhan. Luka ibunya tidak berhenti pada tubuhnya hal itu juga merembes ke batin Jefri, membentuk hidupnya yang dipenuhi kemarahan, rasa tidak aman, serta dendam yang bahkan ia sulit pahami asalnya.
Melalui tokoh Jefri, film ini menyoroti bagaimana trauma besar suatu bangsa dapat bertransformasi menjadi konflik batin seseorang. Kekerasan yang muncul dari individu sering kali bukan sekadar pilihan sadar, tetapi letupan dari sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan.
Pada akhirnya, Joko Anwar dalam film Pengepungan di Bukit Duri ini mengingatkan bahwa distopia tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari luka kolektif yang diabaikan, dari ingatan yang tidak disembuhkan, dan dari generasi yang terpaksa memikul trauma yang bukan mereka mulai.












