ZONAPUBLIS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja memperbarui Peringatan Dini Cuaca untuk wilayah Sumatera Barat pada Selasa, 30 Desember 2025.
Menjelang pergantian tahun, dinamika atmosfer di Ranah Minang menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, memicu potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Berdasarkan laporan pemutakhiran pukul 16.55 WIB, fenomena cuaca ini diperkirakan mulai melanda pada pukul 17.15 WIB dan diprediksi akan berlangsung hingga pukul 19.30 WIB.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi kilat, petir, serta tiupan angin kencang yang menyertai curah hujan.
Sebaran Wilayah Terdampak
Radar cuaca menunjukkan cakupan wilayah yang cukup luas, meliputi pusat-pusat aktivitas penduduk dan jalur transportasi utama. Wilayah yang masuk dalam zona peringatan dini antara lain:
-
Pesisir & Kota Utama: Seluruh kecamatan di Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kota Pariaman, dan Kota Sawahlunto.
-
Wilayah Kabupaten: Sebaran luas di Kabupaten Solok (khususnya kawasan Danau Singkarak dan Gunung Talang), Kabupaten Agam (Palembayan, Malalak, hingga Sungai Pua), Kabupaten Padang Pariaman, Tanah Datar, Sijunjung, Pesisir Selatan, serta Lima Puluh Kota.
BMKG juga mencatat bahwa potensi hujan ini dapat meluas ke wilayah sekitarnya, termasuk Pasaman Barat, Kepulauan Mentawai (Pagai Utara dan Sikakap), hingga Dharmasraya.
Imbauan Keselamatan dan Mitigasi
Mengingat kondisi cuaca yang dapat memicu gangguan mobilitas dan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir luapan atau pohon tumbang, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang sedang berada di perjalanan atau di kawasan perbukitan.
“Kondisi ini diperkirakan masih akan bertahan hingga malam hari. Kami menyarankan masyarakat untuk menghindari ruang terbuka saat terjadi petir dan menjauh dari pohon besar atau papan reklame saat angin kencang melanda,” tulis laporan resmi BMKG.
Bagi warga yang berdomisili di sepanjang bantaran sungai, fluktuasi debit air perlu dipantau secara berkala sebagai langkah mitigasi mandiri terhadap potensi luapan air yang tiba-tiba. (*)














