Berita

Potensi Geothermal Sumbar Capai 1.651 MW, Mahyeldi Pacu Investasi Energi Bersih

×

Potensi Geothermal Sumbar Capai 1.651 MW, Mahyeldi Pacu Investasi Energi Bersih

Sebarkan artikel ini
Potensi Geothermal Sumbar Capai 1.651 MW

ZONAPUBLIS – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan, terutama panas bumi atau geothermal, sebagai salah satu sumber energi bersih sekaligus bagian dari upaya mewujudkan Sumbar sebagai Green Province.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan, pengembangan energi panas bumi menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah mengingat Sumbar memiliki potensi yang cukup besar. Komitmen tersebut juga telah disampaikannya saat menghadiri Opening Ceremony The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.

Mahyeldi menilai pemanfaatan energi bersih perlu menjadi bagian dari arah pembangunan Sumbar ke depan. Selain mendukung kebutuhan energi, pengembangan geothermal dinilai dapat membuka peluang investasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.

“Kita termasuk salah satu daerah yang sudah menyatakan komitmen dalam pemanfaatan panas bumi. Kita memang konsen dengan geothermal dan itu sudah kita kemas dalam konsep Green Province,” kata Mahyeldi di Padang, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga  Razia Malam di Lapas Kelas IIA Pekanbaru Amankan Handphone dan Sajam

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, potensi energi panas bumi di provinsi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1.651 megawatt (MW). Potensi itu tersebar di 22 titik yang berada di tujuh kabupaten.

Namun, pemanfaatannya saat ini masih relatif kecil. Dari keseluruhan potensi tersebut, baru sekitar lima persen yang telah dimanfaatkan.

“Artinya, masih banyak potensi yang bisa kita kembangkan,” ujar Mahyeldi.

Salah satu pemanfaatan geothermal yang sudah berjalan berada di Muara Laboh, Kabupaten Solok Selatan. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh saat ini memiliki kapasitas sekitar 86 MW.

Pengembangan juga terus dilakukan melalui proyek Muara Laboh Unit-2 dengan kapasitas 80 MW. Proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar 490 juta dolar AS dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.

Baca Juga  Polda Sumbar Gelar Tabligh Akbar Bareng Ustaz Adi Hidayat, Undang 1.000 Anak Yatim

Selain Muara Laboh, pemerintah daerah juga mencatat sejumlah kegiatan pengembangan geothermal lainnya. Di antaranya pengeboran sumur eksplorasi di Bonjol, Pasaman Barat, serta survei pendahuluan di kawasan Cubadak Panti.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan panas bumi tidak lepas dari berbagai tantangan. Mahyeldi menyebut kebutuhan investasi yang tinggi dan kepastian bagi investor menjadi beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, Pemprov Sumbar berharap dukungan pemerintah pusat dan kementerian terkait dapat mempercepat proses pengembangan wilayah kerja panas bumi di daerah.

“Tantangannya tentu investasi dan bagaimana kita mendapatkan pihak pengusaha yang mau masuk. Karena itu, kita berharap ada percepatan dan dukungan dari kementerian terkait, sehingga pemanfaatan energi baru terbarukan kita bisa lebih maksimal,” katanya.

Menurut Mahyeldi, pengembangan geothermal tidak semata-mata ditujukan untuk menambah pasokan listrik. Jika dikelola secara optimal, sektor energi bersih juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru, menarik investasi dan meningkatkan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Baca Juga  Sumbar Lampaui Target Nasional, Tetapkan 166.466 Hektare LP2B untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Dengan potensi yang tersebar di sejumlah kabupaten, ia berharap lebih banyak investor tertarik masuk ke Sumatera Barat.

“Kita punya tujuh kabupaten dan 22 titik potensi geothermal yang bisa dikembangkan,” tuturnya.

Pemprov Sumbar juga ingin pengembangan panas bumi berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya, seperti tenaga air dan tenaga surya.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Ini bukan hanya soal listrik, tetapi bagaimana potensi energi bersih yang kita miliki dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkas Mahyeldi. (*)