ZONAPUBLIS – Seorang lansia bernama Darwin (61) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah diterkam buaya di Sungai Batang Paparian, Kecamatan Parik Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.
Korban yang dilaporkan hilang sejak Selasa (19/5) akhirnya berhasil dievakuasi oleh Tim SAR gabungan pada Rabu (20/5/2026) pagi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik, mengonfirmasi penemuan korban tersebut. Ia menjelaskan bahwa operasi pencarian langsung diintensifkan sejak tim menerima laporan resmi mengenai kondisi membahayakan manusia (KMM) tersebut.
“Korban atas nama Darwin, warga Air Jernih Koto Balingka, berhasil ditemukan oleh Tim SAR gabungan pada pukul 08.00 WIB. Korban ditemukan sekitar 20 meter dari lokasi kejadian pertama (LKP) dalam keadaan meninggal dunia (MD),” ujar Abdul Malik dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).
Peristiwa tragis ini bermula pada Selasa (19/5) sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, korban tengah mencari lokan (kerang sungai) bersama rekannya di aliran Sungai Batang Paparian.
Tanpa diduga, seekor buaya muncul dan langsung menerkam korban ke dalam air.
Rekan korban yang menyaksikan kejadian tersebut segera berlari mencari pertolongan dan melaporkan insiden itu kepada masyarakat serta Sekretaris Nagari setempat, Amar Cendana.
Warga sempat melakukan upaya pencarian mandiri, namun hingga pukul 19.30 WIB korban tak kunjung ditemukan. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke pihak Pos Pencarian dan Pertolongan Pasaman pada pukul 19.44 WIB.
Memasuki hari kedua pencarian pada Rabu (20/5) pagi, Tim SAR gabungan membagi kekuatan menjadi dua Satuan Tugas (SRU) untuk menyisir aliran sungai. SRU 1 melakukan penyisiran sepanjang 1 kilometer dari LKP, sementara SRU 2 melakukan penyisiran area yang lebih luas mencakup radius hingga 2 kilometer persegi menggunakan perahu karet (Landing Craft Rubber).
Dalam proses pencarian, Abdul Malik menyebutkan bahwa tim di lapangan menghadapi risiko yang cukup tinggi karena faktor alam.
“Dalam pelaksanaan operasi, faktor penghambat utama tim di lapangan adalah keberadaan binatang buas atau buaya yang masih berkeliaran di sekitar lokasi pencarian,” jelas Abdul Malik.
Meski dihadapkan pada ancaman predator, Tim SAR gabungan yang dibekali peralatan taktis seperti perahu karet, drone thermal, alat penyelamatan air, hingga perlengkapan medis, tetap bergerak cepat menyisir area. Alhasil, pada pukul 08.00 WIB, jasad korban berhasil dideteksi dan langsung dievakuasi menggunakan ambulans untuk dibawa ke rumah duka.
Operasi penyelamatan ini melibatkan setidaknya 39 personel gabungan, yang terdiri dari 9 personel Pos Pencarian dan Pertolongan Pasaman, 5 personel BPBD Kabupaten Pasaman Barat, 3 personel Pos AL Air Bangis, 2 personel POLRI, serta sekitar 20 warga masyarakat setempat.
Setelah seluruh proses evakuasi rampung, Tim SAR gabungan melaksanakan debriefing pada pukul 09.10 WIB. Mengingat korban sudah ditemukan dan diserahkan ke pihak keluarga, Operasi SAR resmi diusulkan untuk ditutup dan seluruh unsur dikembalikan ke kesatuan masing-masing.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh unsur, baik dari TNI, Polri, BPBD, serta masyarakat setempat yang telah bahu-membahu dengan semangat quick action dalam operasi penyelamatan ini,” tutur Abdul Malik menutup keterangannya.














